Kim-khong-taihap ( 1 )


“tak..tak…tak…,” ”ayok… anak-anak ikuti perkataan saya!” teriak seorang siucai umur enam puluhan yang dikenal dengan sebutan bhok-siansu, sambil memukul-mukul meja dengan gagang kamoceng berusaha mendiamkan sepuluh orang murid-muridnya, namun dua orang murid yang masih bergumul bercanda belum memperhatikannya,
“tiong-ji… duduk..! dan jangan ribut lagi ! mata bhok siansu melotot ,anak yang dipanggil tiong itu langsung duduk dan dengan melipat tangan dengan sikap siap menatap kedepan
“nah..! sekarang dengarkan semuanya dan ikuti kata-kata saya!”  Bhok-siansu mengarahkan kamoceng kepapan tulis di depan sambil memperhatikan semua murid-muridnya

“baik suhu…” , serempak suara murid menjawab

Hati manusia ibarat muara
Mata dan telinga ibarat sungai
hati selamat jauh dari binasa
jika mata dan telinga tidak dilalai
 
serempak semua murid mengikuti baris demi baris ujar yang disampaikan oleh bhok siansu , setelah itu Bhok-siansu bertanya
“apakah kalian sudah mengerti maksud ujar-ujar ini?”
“belum suhu…” jawab murid serempak
“hmh.. kalau begitu perhatikan!” Bhok siansu menatap wajah murid-muridnya dengan arif
“kalian tentu tahu bukan!?, bahwa sungai mengalir berakhir pada muara dan warna muara dipengaruhi oleh apa yang dibawa oleh sungai, jelas…!?”
“jelas suhu…” jawab murid serempak , kemudian Bhok-siansu melanjutkan
“jika air sungai yang masuk kemuara adalah air sungai yang jernih maka jernih jugalah muara itu , tapi sebaliknya jika air sungai yang masuk kemuara itu kotor dan keruh maka kotor dan keruh jugalah muara itu” kembali Bhok-siansu menatap semua muridnya yang hening mendengarkannya , lalu bhok siansu melanjutkan

“demikian jugalah hati manusia anak-anaku!, baik dan tidaknya hati manusia tergantung hal apa yang dilihat oleh mata dan didengar oleh telinganya , jika mata dan telinga melihat dan mendengar hal yang baik dan benar maka hatinya akan baik dan benar , sebaliknya jika mata dan telinga melihat dan mendengar hal yang jahat dan salah maka hatinya akan jahat dan salah.” Bhok siansu terdiam sejenak sampil menatap semua muridnya
“sampai disini apakah kalian mengerti!?”
“mengerti suhu…”

“bagus..! Bhok-sian-su tersenyum senang

“selanjutnya, jika hati manusia itu baik dan benar maka akan melahirkan tindakan yang baik dan benar sehingga ia akan selamat dan sebaliknya jika hati manusia itu jahat dan salah maka akan melahirkan tindakan yang jahat dan salah sehingga ia akan tertimpa binasa, faham !?”

“faham suhu ….” Jawab semua murid

“maka dari itu ! jagalah mata dan peliharalah telinga, karena dengan demikian hati kalian akan bersih dari kekotoran yang pada gilirannya akan melahirkan tindakan-tindakan kalian yang baik dan menyelamatkan kalian dari kebinasaan, mengerti semua.... !?
“mengerti suhu…”
“baik ! sekarang kalian boleh pulang!”
anak-anak itupun berdiri dan bubar setelah menjura pada bhok siansu.

“Han-Tiong!, setelah ini kita keparit dibelakang rumah empek sui untuk menangkap belut, ya !?
“baiklah ji-kun, tapi aku antar buku dulu dan ganti baju”
“alaah…, tidak usah tiong, nanti kita didahuli oleh bun-ti, dan kalau kita didahuluinya maka kita tidak mendapatkan apa-apa”
“baiklah kalau begitu , mari kita pergi !”

Han-Tiong dan Ji-kun berlari-lari menuju sebuah parit dan sesampainya di tepi parit, keduanya meletakkan buku dan gulung celana, kemudian masuk kedalam parit dan mulai mencari-cari sarang belut , hampir dua jam Han-tiong dan Ji-kun didalam parit dan sudah mendapatkan beberapa ekor belut , baju mereka sudah kotor karena kadang keduanya bercanda saling lempar lumpur atau karena terjatuh akibat mengejar belut, sanking asiknya mereka tidak sadar bahwa bhok-siansu berdiri di tepi parit.

“Han-tiong… , Ji-kun….!” kedua anak itu segera mendongak, wajah mereka pucat setelah melihat bhok-siansu
“kalian belum pulang !?” bhok siansu melototkan matanya , ji-kun sudah menunduk pucat
“belum suhu..” jawab Han-Tiong sambil menunduk
“Han-Tiong..! bukankah seharusnya kalian pulang dulu setelah itu baru main!?” kedua anak itu makin menunduk
“lihatlah ! baju kalian sudah kotor dan buku kalian juga kena Lumpur!” Han-tiong mengarahkan pandangannya melihat buku yang memang kotor kena Lumpur dan lalu berkata
“tecu mengaku salah suhu…” Han-tiong menundukkan kepala
“saya juga suhu…” sambung ji-kun yang tetap menundukkan kepala

“Han-tiong dan juga kau Ji-kun ! kalian telah mengetahui salah kalian dan itu bagus, namun tetaplah kesalahan mendapat sanksi dan hukuman , jadi kalian harus dihukum!”
“baik suhu…! tecu akan terima hukuman.” Han-tiong keluar dari parit dan melangkah mendekati bhok-siansu, sementara ji-kun mengikuti dibelakangnya
“Han-Tiong..! kamu harus tulis ujar yang kamu pelajari tadi sebanyak seratus kali, demikian juga kamu ji-kun!”
“baik suhu…! tecu akan lakukan
 “tecu juga suhu….” sambung ji-kun
“baik…! sekarang kalian pulanglah!”
“terimakasih suhu…” jawab Han-Tiong dan kemudian keduanyapun segera meninggalkan tempat itu

“aah… suhu malah menghukum kita Tiong…! malas aku menulis ujar-ujar itu.”  Ji-kun merengut setelah jauh dari bhok siansu
“kita mesti terima dan menjalani hukuman itu , ji-kun ! dan kita memang tadi salah!”
“ah… peduli amat, aku hanya mau tulis sepuluh saja sebab nanti malam ada pasar malam.”
“ya sudah ! terserah kamu saja!” sahut Han-Tiong dan kemudian keduanya berpisah dan menuju kerumah masing-masing                 

Siang itu kota kun-leng sangat ramainya, banyak orang hilir mudik untuk menyelesaikan aktivitasnya , toko dan kedai banyak diserbu oleh pengunjung untuk mempersiapkan pesta keluarga menjalani sin-cia (musim semi) 
Salah satu rumah makan dipadati oleh orang yang akan makan siang dan para pelayan sibuk melayani tamu yang datang dan pergi silih berganti

“pelayan .. !” seorang tamu memanggil , orang itu kelihatan baru menempuh perjalanan jauh karena pakaiannya nampak kotor berdebu
“iya kongcu , kongcu mau pesan apa !?” tanya pelayan bernama a-kiong
“hidangkan masakan terlezat…! baik kongcu dan minumannya kongcu ?!”
“demikian juga minumannya arak terbaik !”
“baiklah kongcu segera akan disajikan.” a-kiong segera memutar badan meninggalkan tamu tersebut pergi kebelakang untuk mempersiapkan pesanan

siapakah tamu yang kelihatan dari perjalanan jauh ini ? , dia adalah seorang tokoh kangowu yg memiliki ilmu yang lihai , namanya Lie-cin-bun berjulukan gobi-kiam-sian (Dewa pedang gobi)  , umurnya sekitar empat puluh  tahun dengan perawakan yang kuat dan gagah , dia adalah murid utama liu-sang-hewsio dari gobi-pai yang diutus perguruannya untuk memenuhi pertemuan di jeng-hoa-san (bukit seribu bunga) yang diseponsori oleh perkumpulan  “Lo-I-Kaipang” (pengemis baju butut) yang dipimpin oleh song-tiaw-leng yang berjulukan koai-tung-kai (pengemis tongkat aneh)

Ketika akan menyantap hidangan , gobi-kiam-sian melihat seorang tamu yang baru masuk , rambutnya berwarna putih tapi wajahnya masih gagah dan kencang karena umurnya sepantaran dengan gobi-kiam-sian, seorang pelayan langsung menyambutnya dengan senyum ramah , “silahkan kongcu ! pelayan itu membawanya kesebuah meja kosong
“sicu Pek-mou-liong…!”(Naga berambut putih) gobi-kiam-sian menegur sambil berdiri
“aha… ternyata gobi-kiam-sian sudah pula sampai di sini ,oh ya pelayan ! saya duduk semeja dengan sahabatku ini”
“baiklah kalau begitu kongcu!” sahut pelayan dan hendak beranjak
“dan tolong pesanan saya sama dengan saudaraku ini!”
“baiklah kongcu.” pelayan itu segera menuju kebelakang

“bagaimana kabar Cia-sicu..! ,baik-baik saja bukan!?” tanya Lie-Cin-Bun
“aku baik-baik saja Lie-sicu , dan bagaimana pula dengan keadaanmu?”
“aku juga baik-baik saja. Lie-sicu” Jawab Liem-Cin-Bun
“apakah loncinpawe kunlun-tojin ciangbujin yang menugaskan cia-sicu untuk pertemuan di jeng-hoa-san!?”
“benar Lie-sicu , dan tentu sicu juga demikian , bukan ?!” gobi-kiam-sian mengangguk

Ketika pesanan pek-mou-liong dihidangkan , gobi-kiam-sian nyelutuk karena melihat tamu yang baru datang   
“wah..! sicu pek-lui-sin (malaikat geledek) dari Hoasan-pai dan Bu-eng-kiam (pedang tanpa bayangan) dari kotong-pai sudah datang!”
Pek-mou-liong yang membelakangi pintu masuk rumah makan memutar tubuhnya dan melihat dua tamu yang baru masuk

“pek-mou-liong..! ternyata sicu sudah sampai dari kun-lun-san,”
“benar sicu pek-lui-sin, mari… ! sekalian saja kita satu meja!” ajak pek-mou-liong, pek-lui-sin dan bu-eng-kiam duduk dan memesan makanan.
Dan sebelum pesanan pek-lui-sin datang , empat orang tamu masuk
“wah.. pek-lek-jiu juga sudah datang.” Sela pek-lui-sin
“aha…, sicu pek-liu-jiu (si tangan gledek) haha..haha.. mumpung kita berada disini jadi sekalian saja kita barengan makannya!” ajak Bu-eng-kiam
“benar sicu pek-liu-jiu, marilah kita duduk bersama!” sambung pek-lui-sin

dua orang pelayan datang dan menggeser meja kosong terdekat menyatukan dengan meja yang sudah diduduki dan kemudian salah seorang pelayan menanyakan pesanan kepada pek-liu-jiu , setelah pelayan pergi kedelapan pendekar itu melanjutkan pembicaraan demikian akrab
 “kebatulan sekali kita dari delapan partai memasuki rumah makan yang sama, tidak tahu apakah tujuan kita juga sama.” sela pek-liu-jiu
“saya dan pek-mou-liong ingin ke jeng-hoa-san ! sicu-pek-liu-jiu.”
“wah.., demikian juga kami sicu gobi-sian-kiam, saya…, sicu tung-sin-hiap  (pendekar tongkat sakti) dari thaisan-pai, sicu-sin-kun  (si kepalan sakti) dari butong-pai , sicu sin-coa-hiap (pendekar ular sakti) dari hengsan-pai” sambung pek-liu-jiu
“hemhh.., kebetulan juga sicu pek-liu-jiu saya dan sicu bu-eng-kiam dari kotong-pai akan ke jeng-hoa-san.” sela pek-lui-sin

“kebetulan yang menyenangkan sicu sekalian dan karena makanan suidah terhidang sebaiknya kita makan!” sela gobi-kiam-sian sambil mengambil sumpitnya dan yang lainpun segera mengambil sumpit masing-masing  

Pemilik rumah makan itu adalah seorang she kwee yang bernama Bun yang masih tergolong muda karena umurnya baru tiga puluh tahunan , dia sedang duduk dimeja di sudut ruangan sambil sibuk membuat peta kursi tamu yang dipadati tamu , kwee-bun sesekali melihat kedelapan tamunya yang kesemuanya berbadan kekar dan lincah serta rata-rata umur tiga puluhan sampai empat puluh limaan dan karena kedelapan orang itu bukan orang tempatan, “ hmh.. orang-orang ini dari kalangan liok-lim dan kelihatannya mempunyai tujuan yang sama.”  pikirnya

Setelah lama duduk dan memperhatikan para tamu yang lagi makan , kwee-Bun merasa bosan , lalu ia berdiri dan masuk keruang dalam , sementara didalam istrinya Tan-siok-nio yang cantik berumur dua puluh lima tahun sedang menyulam, melihat suaminya datang, Tan-siok-nio berhenti dengan sulamannya dan melemparkan senyuman manis pada suaminya

“sepertinya  kedai kita hari ini benyak tamu koko!”
 “benar niocu , dan banyak tamu dari luar daerah, mungkin mereka ada pertemuan entah dimana.” sahut Kwee-Bun sambil duduk di kursi goyangnya dan menyandarkan tubuh
“apakah mereka dari kalangan kangowu!?”
“kelihatan demikianlah niocu, karena melihat kesigapan dan kokoh tubuh mereka, tentu mereka dari kalangan persilatan.”
“biarlah, yang penting tidak mengacau saja di sini!”
“semoga saja niocu.” sahut kwee-Bun sambil menggoyang kursi goyangnya

“hmh.. Tion-ji kemana…!?” tanya Kwee-Bun memecah kesunyian
“Tiong-ji sudah pergi bermain setelah mengerjakan tulisan yang disuruh bhok-siansu.” Jawab Tan-Siok-Nio sambil meletakkan sulamannya dan berdiri, kemudian melangkah mendekati meja mengambil kumpulan kertas yang ada diatasnya dan mendekati suaminya
“koko, ini yang dikerjakan tiong-ji.” Tan-Siok-Nio memperlihatkan pekerjaan kwee-Han-Tiong kepada suaminya, Kwee-Bun melihat hasil kerja anaknya dengan kagum ,betapa tidak ! anaknya yang baru berumur lima tahun itu sudah mahir membaca dan menulis

Kwee-bun terkenang saat bhok-siansu mendatangi rumahnya, “Bun-ji ! sungguh anakmu itu luar biasa cerdasnya, hanya dia agak nakal dan suka berkelakar.”
“dihukum saja siansu…! kalau tidak mau dinasehati!”
“hahahaa, anakmu itu sudah berkali-kali saya hukum bun-ji dan dia menurut saja.”
“maksud siansu !?” tanya Kwee-Bun heran dengan kening berkerut

“kadang saya suruh menimba air untuk memenuhi tempayan dia tidak pernah protes atau mengeluh dalam mengerjakannya, saya suruh lari seratus kali keliling rumah saya juga tanpa membantah dia lakukan, saya suruh lompat kodok naik tangga kuil giok-lian tanpa bersambat dia lakukan,”
“hmhh.. , lalu bagimana siansu!?”
“hmh.. ,saya sudah jera menghukumnya bun-ji, tapi yang jelas Han-Tiong itu nakal tapi nakal yang bertanggung jawab, entah darah siapa dari keluargamu yang menurun kepadanya bun-ji!” bhok-siansu sambil tertawa meninggalkan kwee bun yang keheranan    

“apa yang bun-ko pikirkan ..?” tanya istrinya sehingga lamunan kwee-bun buyar mendengar pertanyaan istrinya
“hmh .. saya teringat akan perkataan bhok-siansu tentang Han-Tiong.”
“hal apa itu koko !? , apa hal kenakalan tiong-ji !?”
“benar niocu, karena pernah siansu berkata bahwa Tiong-ji nakal tapi kenakalan yang bertanggung jawab!”
“lalu kenapa koko !? , bukankah lumrah anak-anak itu nakal !?”
“benar nioucu !  tapi bukan itu masalahnya.”
“lalu masalahnya apa koko !?”
“siansu mengherankan entah dari kerturunan kita yang mana menurun pada anak kita itu.”
“jadi menurut koko keturunan kita yang mana !?”   

“soal kecerdasan dalam tulis baca dan hafalan anak kita ini tidak mengherankan karena dari dulu kong-cow nya (kakek buyut)  juga terkenal sebagai siucai yang handal.”
“mugkin saja dari siok-kong-cow nya (paman kakek buyut) bun-ko!”
“benar…., boleh jadi demikian niocu, sebab siok-kong kwee-seng orang terkenal dizamannya sebagai pendekar dengan julukan kim-mo-taisu  (guru besar setan emas)  terlebih muridnya kim-siaw-eng (suling emas).”

terbayanglah Kwee-Bun akan cerita kakeknya saat menceritakan keturunannya yang mana kong-couwnya kwee-lun yang tinggal di pulau kura-kura memiliki anak laki-laki kembar kwee-can dan kwee-cin , susiok-kongcouwnya kwee-can sangat suka ilmu surat dan silat, sementara kwee-cin kongcouwnya hanya suka ilmu surat, kwee-cin menurunkan kongkongnya kwee-tin sementara kwee-can menurunkan susiokongnya kwee-seng atau kim-mo-taisu, kim-mo taisu, kwee-seng hanya punya anak perempuan kwee-eng dan meninggal muda , kwee-tin menurunkan ayahnya kwee-sin dan kwee-sin menurunkannya dan dia sendiri menurunkan anaknya Kwee-Han-Tiong . Dan sepertinya Kwee-Han-Tiong kemungkinan besar sangat suka ilmu surat dan silat sebagaimana kwee-seng seorang siucai yang gagal nan sakti

“sudahlah koko.. , koko kedepan lagi ! mana tahu ada orang memerlukan disana!” sela istrinya dan memnuyarkan kenangannya
 “oh iya, aku kedepan dulu!”  kwee-bun meninggalkan istrinya dan duduk kembali disudut ruangan kedai hingga sorepun menjelamg

Sore harinya setelah kedai sunyi maka kedaipun dibersihkan dan ditutup , sementara di bukit jeng-hoa-san sekumpulan orang sedang berkumpul , api unggun telah dinyalakan dan kedelapan utusan partai besar yang sama makan di tempat kwee-bun sudah berada di tempat itu.

Kemudian dibagian lain koai-tung-kai dan sepuluh anggotanya Lo-I-kaipang juga sudah hadir, dibagian lain ada seorang lama baju kuning, mukanya bundar dengan kepala gundul dengan tubuh pendek gemuk asik memutar rosario dengan mata terpejam, dia adalah hong-san-lama utusan dari Tibet murid  tingkat dua, selanjutnya dibagian lain seorang nikow berumur lima puluh tahun sedang duduk bersemedi dengan melipat tangan dan tangan kanannya memegang hudtim, walaupun umurnya sudah setengah abad namun garis kecantikannya belum pudar , nama nikouw itu adalan Lan-nikow , dan yang terakhir adalah sepasang suami istri yang dikenal dengan julukan sin-yan-siang (sepasang walet sakti) liem-bu-sin dan istrinnya bu-goat-eng

ketika malam telah datang , bulan purnamapun sudah muncul dan langit dihiasi bintang gemintang yang bertaburan maka koai-tung-kai membuka pertemuan
“rekan-rekan sehaluan, pertama saya ucapkan terima kasih atas kesudian para enghiong dan loncinpawe memenuhi undangan kami!” Koai-tung-kai menjura ke empat arah dengan takzim kemudian melanjutkan

“hal pertemuan kita ini sebagaimana dalam undangan kami adalah sehubungan dengan apa yang terjadi dikalangan kita yang membuat kita semua prihatin, yang mana setengah tahun yang lalu terjadi geger akan sepak terjang dari golongan sesat yang tidak memandang sebelah matapun terhadap kita,“ koai-tung-kai diam sejenak melihat kesemua undangannya .
“Dan dari penyelidikan anggota kami, maka kami mendapatkan berita yang sangat mengejutkan, dan oleh sebab itulah kami mengundang sicu enghiong semua ketempat ini, karena menurut saya perlu diketahui bersama oleh para ciangbujin partai persilatan yang sudah hadir disini semuanya dengan utusannya, begitu juga para loncinpawe dan enghiong semua yang tersangkut langsung dengan peristiwa menggemparkan tersebut.”

Peristiwa yang dimaksud koai-tung-kai adalah dimana delapan partai besar kehilangan benda pusaka pada enam bulan yang lalu , siauwlim-pai kehilangan bokor emas , hoasan-pai kehilangan giok-kiam (pedang kemala) , thaisan-pai kehilangan pek-liong-kiam (pedang naga putih) , Butong-pai kehilangan kitab pusaka thay-kek-kun (ilmu pukulan taichi) , seminggu kemudian kunlun-pai kehilangan swat-lian (teratai salju) sejenis obat yang langka , khotong-pai kehilangan kitab im-kan-sin-kang (tenaga sakti arhat)  , gobi-pai kehilangan senjata berupa hudtim bergagang emas , dan hengsan-pai kehilangan kitab pusaka ngo-heng-gan-te (lima elemen memutar bumi) dan sebulan kemudian pustaka dalai lama di obrak abrik tanpa diketahui siapa pelakunya, namun tidak ada barang yang hilang, kemudian kwan-im-bio yang dipimpin lan-nikow kehilangan bwee goat (bunga bulan) sejenis obat untuk kaum wanita , dan tiga bulan yang lalu putri Liem- bu-sin yang berumur satu tahun yang mereka namai Liem-swat-hong hilang ditangan pembantunya walhal mereka berada di rumah

Hari itu mereka berdua sedang berlatih dibelakang rumah , sementara pembantunya yang biasa menggendong anaknya berada di beranda depan rumahnya , tiban-tiba pembantu tersebut mati kaku dengan bekas totokan berwarna hitam dan anak digendongannya hilang entah kemana, senyap dan tidak sedikitpun pasangan itu menyadari, setelah dua jam mereka berlatih maka bu-goat-eng sambil mengusap keringatnya keluar menuju ruang depan namun alangkah terkejutnya ketika melihat pembantunya tergeletak di lantai , “sin-ko ….” jeritnya dengan keras
Liem-bu-sin yang mendengar teriakan istrinya langsung berlari ke ruang depan dan mendapatkan istrinya yang sedang memperhatikan tanda hitam di leher pembantunya

“ada apa eng-moi!” tanya bu-sin sambil berjongkok dekat istrinya
“tidak tahu …  saya dapati pek-bo sudah tergeletak begini, ah.. anak kita koko dimana anak kita…!?”, jeritnya lirih dengan muka pucat dan cemas
keduanya langsung bergerak mencari keseluruh ruangan rumahnya namun anaknya tidak diketemukan , kembali mereka bertemu diruang tengah

“koko…anakku diculik “ bu-goat-eng tidak kuasa menahan air matanya , rasa kekhawatiran sangat tergambar diwajah cantik itu
“tenanglah eng-moi…! , sekarang kita berpencar dan nanti malam kita kembali kesini , mungkin penculik itu belum jauh!“ Liem-bu-sin mencoba menenangkan istrinya, kemudian mereka pun berpencar , Liem-bu sin kebarat sementara bu-goat-eng ke timur, mereka bertanya-tanya disepanjang jalan kepada orang dan tetangga yang mungkin melihat orang membawa anak mereka namun hasilnya nihil.

Malamnya mereka sudah kembali kerumah dengan wajah lelah dan pucat , Bu-goat-eng menubruk suaminya dengan buncahan tangisan  
“sudahlah eng-moi…!, setelah mayat pek-bo dikuburkan kita  berkemas untuk mencari anak kita!”
“aku khawatir dan cemas sekali memikirkan yang terjadi dengan hong-ji!”
“tenangkan dirimu eng-moi…! dan satu hal yang pasti anak kita tidak dibunuh, sebab kalau penculik itu berniat membunuh untuk apa dia culik anak kita!” hibur liem-bu-sin sambil mengusap kepala istrinya .

Dua hari kemudian setelah pembantu tersebut dikubur sepasang pendekar itu berangkat
“koko.., alangkah luar biasa saktinya orang yang menculik hong-ji , sehingga kita tidak tahu akan kedatangannya kerumah kita.”
“benar niocu, orang itu tentu orang sakti dari golongan hitam, karena demikian kejinya totokan yang ada ditenggorokan pembantu kita itu.”
“aku akan mengadu nyawa dengan orang itu…!” bu-goat-eng mengepal tangannya dengan muka marah
“ benar… , demikian juga aku eng-moi ! untuk anak kita, apapun akan kita hadapi bersama !” Liem-bu sin memegang tangan bu-goat-eng untuk memberikan kekuatan pada hati bu-goat-eng yang cemas sebagaimana juga dirinya .

Selama dua bulan mereka terus mancari namun tiada hasil seakan anak mereka dan penculik itu hilang ditelan bumi , dan sebulan yang lalu mereka mendapatkan undangan dari lo-I- kaipang yang di ketuai koai-tung-kai untuk mengadakan pertemuan di jeng-hoa-san, dan malam itu mereka berada di jeng-hoa-san untuk memenuhi undangan tersebut

“koai-Tung kai , apa yang telah kamu dapatkan dari hasil penyelidikan anak buahmu tentang masalah yang melanda kita ini!?”  tanya hongsan-lama
“benar.. , bagaimana dan apa yang song-pangcu dapatkan!? sela sin-coa-hiap dari hengsan-pai

“begini para enghiong semua, kejadian yang beruntun ini tentu didalangi oleh orang yang berseberangan dengan kita, kami juga mengalami hal yang serupa dengan para sicu semua, yang mana dua bulan yang lalu perkumpulan kami dicabang utara diobrak abrik dan markas kami dibakar, enampuluh anggota kami dibabat dengan keji oleh orang tersebut“ Kaoi-tung-kai mengepal tinjunya dengan hati geram dan marah

“hmh.., alangkah durjananya orang itu pangcu, lalu siapakah mereka itu!?” sela hong-san-lama, utusan kedelapan partai besar juga terkejut dan marah mendengar kekejian itu .
“bangsat keji yang tidak berperikemanusiaan” sela sin-coa-kiam geram sambil mengepal tinjunya
“huh..memang golongan kita telah dihina “ pek-mou-liong mendengus marah
“lalu bagaimana song-pangcu!?” tanya utusan shaolinp-pai

“begini yo-losuhu dan enghiong semua…, dari pengakuan pimpinan cabang utara sebelum meninggal, mengatakan bahwa yang menyerang mereka itu seorang yang sangat sakti dengan senjata pedang kembar, dan orangnya sekitar umur lima puluh tahun dengan jenggot dua warna hitam dan putih, kemudian kami sebar anggota di seluruh cabang untuk menyelidiki orang dengan ciri tersebut, maka sebulan yang lalu kami dapatkan berita bahwa orang itu adalah siang-kiam-kwi (iblis berpedang kembar).” Semua peserta pertemuan diam mendengarkan , lalu koai-tung-kai melanjutkan

“dan kami juga mendengar berita bahwa golongan hek-to sudah memiliki pimpinan yang dikenal dengan thian-te-sam-kwi (tiga iblis dunia) dan salah satunya adalah siang-kiam-kwi , yang kedua adalah tok-sim-kwi (iblis berhati racun) dan yang ketiga adalah toat-beng-kwi (iblis pencabut nyawa).”

“lalu menurut song-pangcu, bahwa anak kami hilang karena diculik salah satu thian-te-sam-kwi!”

“benar toanio…, besar sangkaan saya demikian ! karena menurut anggota kami juru masak cabang utara yang sedang mengambil air ketika itu di hutan belakang markas , dia melihat  bayangan seorang yang berperawakan tinggi memasuki dapur dan lalu membakarnya, dan dipunggung orang itu ada gendongan , sementara menurut penyelidikan kami bahwa perawakan itu dimiliki oleh tok-sim-kwi.”

“oh …. Anakku!“ gumam bu-goat-eng lirih
“tenanglah eng-moi…” Liem bu sin menyentuh pundak Bu-goat-eng untuk menenangkan istrinya .

“lalu bagaimana dengan hilangnya pusaka delapan partai ,song pangcu !?” tanya pek-liu-jiu
“sicu pek-liu-jiu…! hal itu juga jelas perbuatan mereka.”
“bagimana song pangcu begitu yakin sementara mereka tiga orang dan kabar kehilangan empat partai pada malam yang bersamaan.” Sela gobi-kiam-sian
“benar sicu gobi-kiam-sian , memang rasanya tidak mungkin, tapi kita juga harus tahu bahwa pembantu-pembantu iblis ini juga tidak kurang lihainya, hal itu dapat kita ketahui dari apa yang di alami oleh delapan partai besar.”
“maksudnya bagaimana , song-pamgcu !?” tanya sin-coa-hiap

“maksudnya , kebobolan yang dialami delapan partai besar tidak mungkin dilakukan oleh orang sembarangan kecuali orang yang melakukannya adalah orang-orang sakti dan luar biasa , jadi tidak salah jika kita menyimpulkan bahwa ini didalangi ketiga iblis itu.” sahut koai-tung-kai meyakinkan

“saya belum melihat keterkaitan antara kehilangan delapan partai dengan thian-te-sam-kwi , pangcu !” sela sin-coa-hiap

“begini sicu sin-coa-hiap , thian-te-sam-kwi telah merajai hek-to dan orang-orang sakti dikalangan itu merasa memiliki naungan dan pusat kekuatan sehingga mereka juga mulai unjuk gigi dengan membuat kehebohan.”

“jadi intinya oleh karena mereka sudah merasa kuat karena adanya thian-te-sam-kwi maka mereka melakukan hal yang menggemparkan kita, demikiankah maksud song-pangcu!?” sela sin-coa-hiap

“benar sekali sicu sin-coa-hiap , kalau tidak untuk apa mereka lakukan hal tersebut kalau tidak untuk menghina golongan kita.” sahut koai-tung-kai

“kalau begitu ketiga iblis ini tidak bekerja sendiri-sendiri.” Sela Lan-nikouw
“benar suthai, mereka memiliki kaki tangan yang lihai.”

“dugaan song-pangcu memang beralasan karena pustaka di Lasa juga yang diobrak abrik oleh setidaknya tiga orang , pustaka kami memiliki tiga ruangan  yang berlainan tempat , dan waktu bersamaan ketiganya diobrak-abrik.” sela hongsan-lama

“sejauh penyelidikan song pangcu  dan anak buah , apakah kalian tahu sarang mereka ?!” tanya Liem-bu-sin
“kami belum tahu Liem-taihap”

tiba-tiba terdengar suara ketawa yang demikian kuat sehingga tempat itu bergetar, sepuluh anggota lo-i-kai-pang terjungkal muntah darah dan dari mata telinga mereka juga mengalir darah segar , sesaat mereka berkelonjotan dan akhirnya terdiam dengan nyawa melayang
ke tiga belas orang peserta pertemuan, sekuat tenaga membentengi diri dengan sin-kang berusaha melawan suara ketawa yang menggetarkan jantung itu, berselang setengah jam ketawa itu berhenti dan muncullah tiga orang iblis yang baru mereka  bicarakan
yang membuka mata pertama sekali adalah hongsan-lama dan kemudian Lan-nikow , Hongsan-lama yang melihat sepuluh pengemis yang bergelimpangan mati sambil berdiri menegur
“alangkah tidak manusiawinya kalian semudah itu menyebar maut.”
sementara yang lain-lain juga berdiri dengan wajah pucat , Bu-goat-eng memegang tangan suaminya ,terasa lemah tubuhnya karena jantungnya hampir pecah akibat suara ketawa tersebut,

“hahaha…. Lama bau..! thian-te-sam-kwi memang kerjaannya menyebar maut , lalu kamu apa!? , mau menantang kami, hah…!” tantang lelaki berperawakan tinggi dengan jumawa dia adalah tok-sim-kwi

“heh … kalian mau cari sarang kami bukan ?, hahah..haha…hahaha, tidak usah repot-repot, kami sudah di sini mendatangi kalian, malam ini thian-te-sam-kwi akan mengadakan pesta kecil, hahaha…hahhaa. Hahaha….” orang yang banyak tertawa itu memiliki tubuh kate dia adalah toat-beng-kwi,

“siapa mau mati duluan ayo maju…!” tantang toat-beng-kwi dengan sinis
“toat-beng.. ! kenapa satu-satu, sekalian saja semua diajak pesta!” sela tok-sim-kwi sambil mencibir sinis

tanpa dikomando ke tigabelas orang itu menggebrak kedepan menyerang thian-te-sam-kwi dan luar biasanya ketiga iblis itu mengulurkan tangan kedepan
“blamm…..” terdengar benturan keras diudara dan tiga belas tubuh terlempar kebelakang sampai sepuluh tindak, lalu semua pendekar itu bangkit dan bersiap menyerang dengan jurus masing-masing

Liem-bu-sin dan isteri, lan-nikow, koai-tung-kai dan hongsan-lama berhadapan dengan siang-kiam-kwi yang berjenggot hitam putih sementara sin-tung-hiap, sin-coa-hiap, sin-kun dan gobi-kiam-sian berhadapan dengan tok-sim-kwi dan dibagian lain pek-mou-liong, pek-liu-jiu, bu-eng-kiam dan pek-liu-sin berhadapan dengan toat-beng-kwi

“rekan-rekan semua untuk menghadapi iblis, kita tidak perlu pakai peradatan , mari kita serang…!” teriak koai-tung-kai sambil menyerang
“hahaha..hahaha , kalian keroyokpun kalian akan dibabat habis!” sahut toat beng kwi sambil menggenjot tubuh kecilnya dengan kecepatan luar biasa mengeluarkan swe-goat-kwi-eng-hoat (jurus bayangan iblis meraup rembulan)


ke empat lawanya memapaki serangan tersebut  dengan jurus masing-masing , “blammm… des…wut… , pek-mou-liong menangkis pukulan tangan kanan toat-beng-kwi sedang pek-liu-jiu menangkis tangan kirinya, pek-lui-sin menyambut tendangan toat-beng-kwi dengan cengkraman sedang bu-eng-kiam menyambut tubuh toat-beng-kwi dengan tusukan pada lambung

tiga tenaga sin-kang menyeruak udara malam , tangan pek-lui-sin kena tendang sementara tusukan bu-eng-kiam luput karena tubuh toat-beng-kwi melenting keudara setelah beradu pukulan dengan pek-mou-liong dan pek-liu-jiu sementara pek-mou-liong dan pek-liu-jiu terlempar lima tindak

pek-lui-sin merasakan tangannya terasa sakit karena cakarannya ditendang toat-beng-kwi sementara  bu-eng-kiam melanjutkan serangannya dengan gencar namun gin-kang toat-beng-kwi amatlah luar biasa sehingga pedang bu-eng-kiam selalu luput mengenai tempat kosong

kembali toat-beng-kwi dikeroyok empat pendekar tersebut, tiga puluh jurus sudah berlalu, gin-kang yang luar biasa ringannya  dari toat-beng-kwi membingungkan ke empat pendekar, sementara sin-tung-hiap, sin-kun, sin-coa- hiap dan gobi-sian-kiam menerjang tok-sim-kwi yang menggunakan jurus “sim-lo-tiam-hoat” (ilmu totokan meremukkan hati) memapaki semua serangan

dibagian lain siang-kiam-kwi dengan ilmunya yang lihai te-thian kiam-hoat (jurus pedang bumi langit) pedang ditangan kanannya memaki dua bilah pedang dari sin-yan-siang dan tongkat dari koai-tung-kai dan pedang yang dikiri membendung kebutan hudtim Lan-nikow dan rosario Hongsan-lama , pedang siang-kiam-kwi menggulung laksana gelombang ombak samudra  meruntuhkan semua serangan

diterangi cahaya bulan dan kobaran api unggun pertempuran segit berlangsung, pertempuran yang terbagi tiga kelompok itu demikian ramainya dan walaupun dikeroyok thian-te-sam-kwi dengan handal menangkis dan balas menyerang , bahkan masing-masing semakin lama semakin mendesak lawan-lawan mereka
dan pada waktu yang hampir bersamaan totokan tok-sim-kwi mengenai leher bagian belakang sin-coa-hiap , sehingga sin-coa-hiap jatuh tertelungkup tidak bergerak karena nyawanya sudah melayang

sementara toat-beng-kwi mencengkram perut bu-eng-kiam sehingga perutnya hancur berantakan tanpa bersambat nyawanya juga putus dan disisi lain pedang siang-kiam-kwi merobek lambung bu-goat-eng sehingga ia terduduk memegang lambungnya

“cepat eng-moi kamu turun bukit, kamu harus hidup moi-moi untuk anak kita!” teriak liem-bu sin sambil menagkis tusukan pedang siang-kiam-kwi
“trang…..” percik api berpendar dari adu pedang tersebut, Bu-goat-eng memandang suaminya meragu
“lekas eng-moi…wuut…, liem-bu-sin berteriak lagi sambil membabat kaki siang kiam kwi namun luput

ketika siang-kiam-kwi berpoksai setelah beradu pukulan dengan hongsan hewsio dan menghindari sabetan pedang liem-bu-sin, Bu-goat-eng menggelinding menjauhi pertempuran , tapi tiba-tiba toat-beng-kwi saat beradu pukulan dengan pek-liu-jiu dan pek-mou-liong dan berhasil merubuhkan kuda-kuda keduanya kemudian dengan gerakan cepat  mencengkram bahu pek-lui-sin dengan tangan kanannya dan tangan kirinya memukul kearah Bu-goat-eng dengan jurus “giok-in-sai-mo” (setan alas melempar mustika) memang tidak telak kearah punggung bu-goat-eng namun hawa pukulan itu  sudah cukup membuat nyonya itu terlempar kedepan tiga tindak dan mengakibatkan muntah darah

Bu-goat-eng terus menuruni bukit jeng-hoa-san sementara pertempuran diatas semakin segit dan seru, seratus jurus sudah berlalu dan pada jurus berikutnya
“craat…cepp..aghh…craat…tanggg…traangg…”
 hudtim Lan-nikow terlepas karena tangannya kena sabet pedang dan disusul tusukan pada dadanya hingga masuk tiga dim kemudian dada itu robek menganga karena pedang siang-kiam-kwi tanpa dicabut menangkis tongkat koai-tung-kai kemudian pedang itu bergerak membacok pedang liem-bu-sin yang akan menusuk lambungnya

Lan-nikow terkapar tak bernyawa dengan dada menganga robek besar, sementara tok-sim-kwi totokannya mengenai dada sin-kun  sehingga tewas  dan toat-beng-kwi sudah menumbangkan pek-liu-jiu

ketiga iblis itu semakin gencar dan seakan berlomba untuk menumbangkan lawan-lawannya dan pada jurus ke dua ratus toat-beng-kwi mencengkram tangan pek-mou-liong dan pek-lui-sin “prak…praak..bukk…bukk..” terdengar jemari tangan yang remuk dan tanpa menunda toat-beng-kwi menyusulkan dua pukulan sakti menghantam dada pek-mou-liong dan pek-lui-sin sehingga keduanya terlempar dengan nyawa putus

tidak lama kemudian gobi-kiam-sian dan sin-tung-hiap menerima dua totokan maut dari tok-sim-kwi yang mengenai dada dan leher sehingga keduanyapun tewas, sementara siang-kiam-kwi sudah membacok leher koai-tung-kai hingga tewas tanpa bersambat
Liem-bu-sin dan hongsan-lama berusaha matia-matian mempertahankan diri namun toat-beng-kwi yang sudah menewaskan kedua lawannya tiba-tiba menyerangnya dengan jurus giok-in-sai-mo , dan tak ayal liem-bu-sin terlempar dan isi dadanya remuk dan tewaslah suami yang gagah itu , hongsan-lama tidak lama menyusul setelah tusukan pedang siang kiam kwi menusuk dada hingga tembus kepunggung dan hongsan-lama pun tewas seketika .

“huh …phuah.. mampus sudah semua!” toat-beng-kwi mendengus sambil meludahi mayat hongsan-lama
“bagaimana dengan perempuan itu!?”
“biarkan saja tok-sim ! paling besok dia sudah jadi mayat karena lukanya.” Sahut siang-kiam-kwi
“betul , apalagi dia sudah merasai pukulanku ! hahaha…hahaha..hahaha…” sambung toat-beng-kwi dengan tawanya yang keras

“sekarang kita istirahat dulu!” siang-kiam-kwi dengan sadisnya menendang mayat-mayat bergelimpangan itu seperti bola dan sekejap mayat-mayat itu berterbangan keberbagai arah dibawah bukit
naas memang nasib delapan sahabat yang baru tadi siang makan bersama , seakan makan bersama dalam pesta ramah di rumah makan kwee-bun merupakan hari terakhir mereka

Bu-goat eng terus menuruni bukit dengan luka yang tidak ringan dan pagi harinya bu-goat eng  sudah berada dikaki bukit , dia terus tertatih dengan luka dilambung dan luka dalam yang menyesakkan dadanya
setelah matahari agak tinggi dia melihat seorang anak lelaki berumur lima tahun sedang berindap-indap di bawah lembah jalan setapak itu sedang mengintai sesuatu, anak laki-laki itu adalah Kwee-Han-Tiong putra kwee bun

dengan suara tawanya yang jernih dan lepas Kwee-han-tiong mengejar-ngejar belut yang meliuk-liuk dan menyusup kedalam tanah  
“cup..cup…cup…hahah..hahha” suara Han-Tiong memancing belut supaya keluar dari lobang seiring suara tawanya yang bebas
“byuarrr…”
“heh.. apa tuh…!?” Kwee-han-tiong terkejut melihat tubuh manusia menggelinding kebawah terhempas ke tanah lumpur didepannya, dengan cepat dia mengangkat kepala wanita itu
”aduh… , bibi apa yang terjadi denganmu!? , aduh… bibi luka!“ Han-tiong menatap iba pada wajah yang menunjukkan ringis sakit luar biasa

dengan nampas yang empas empis ,Bu-goat-eng melihat wajah anak laki-laki yang tampan yang mengangkat kepalanya

“aghh…anakku liem-swat hong malangnya nasibmu , oh anakku!“ keluhnya lemah

“kenapa bibi !? ada apa dengan anakmu liem-swat hong itu !?” Han-tiong menggoyang-goyang tubuh Bu-goat-eng , Bu-goat-eng melihat kembali wajah Han-Tiong

“aku akan mati, kamu carikanlah anakku Liem-swat-hong! jaga dia dan jangan biarkan anakku mengotori dunia ini dengan kedurjanaan, ahhhh…” tiba-tiba bu-goat-eng terdiam dan matanya terpejam .
dada Bu-goat-eng masih bergerak namun nafasnya semakin sesak dan pendek

“aku akan menjaga adik swat-hong, tenangkan hatimu bibi!” Han-tiong berbisik dekat wajah Bu-goat-eng dan kemudian Han-tiong menggoyang tubuh bu-goat-eng yang sudah tidak bergerak , han-tiong jadi bingung sendiri karena tidak tahu apa yang harus ia perbuat
tiba-tiba mata Bu-goat-eng terbuka lebar dan menatap ke mata han-tiong yang dekat dengan wajahnya
“anakku ada tanda merah dibawah ketiaknya.” Bisik Bu-goat-eng menggunakan sisa kekuatannya dan akhirnya nafasyapun putus
Kwee-han-tiong bingung melihat wanita itu telah mati, dia merayap keatas mengharapkan orang lewat tapi sampai siang tidak ada orang yang lewat, kemudian Han-tiong turun kembali kelembah jalan dan mencabut daun talas yang tumbuh dipinggir parit lalu dia menutupi jasad Bu-goat-eng
“aku lapor ke ayah saja!”  pikirnya sambil berlari kearah kota kun-leng

Di pasar kun leng tepatnya di kedai kwee-bun terjadi malapetaka mengenaskan , thian-te-sam-kwi sudah sampai di kun leng dan memasuki kedai kwee-bun

“silahkan…silahkan masuk sam-lopek!”  sambut a kiong
“heh siapa lopek mu !” bentak siang-kiam-kwi sambil mengibas tangannya menampar a kiong
“prak….” kepala a-kiong pecah dan menewaskannya seketika, pelayan yang lain terkejut pucat menyaksikan peristiwa sadis itu
“hahaha….hahaa “ gema tawa toat-beng-kwi membuat kwee-bun keluar dari dalam ruangan
“ada apa ini !? teriaknya dengan raut wajah kesal , namun ketika melihat mayat a-kiong yang tergeletak dengan kepala pecah bersimbah darah  dan lima pelayannya meringkuk disudut ruangan, kotan wajah Kwee-bun terkejut dan pucat pias

dia melihat tiga orang asing dan salah seorang berperawakan mendekatinya
“si…si… siapa kalian !?” tanya kwee-bun dengan tubuh gemetar
“huh.. bukkk…” tok-sim-kwi sambil mendengus menendang perut Kwee-bun hingga tubuhnya terlempar dan masuk kedalam ruangan rumahnya bahkan tubuhnya menghantam lemari hingga hancur,  tak bersambat nyawa kwee bun putus

terdengar jeritan Tan-siok-nio yang melihat suaminya mendoplok dilantai tak bergerak, Tan-siok-nio menangis memeluk suaminya, tok-sim-kwi masuk kedalam dan mendekati Tan-siok-nio dan tangannya yang kekar menjambak rambut Tan-siok-nio

“aa……,lepaskan…!” jerit kwee-hujin histeris kesakitan
“heheh..hehe … hehehe…. ,aduh kasihan ! masih muda begini sudah menjanda!” cela tok-sim-kwi sambil menyeret Tan-siok nio keluar
“lepaskan aku manusia binatang ! manusia keji…! bangsaaaat…!” jerit Tan-siok-nio
“hehehe…hehe.. hehe…” sambil tertawa tok-sim-kwi tidak memperdulikan jeritan tan-siok nio dan terus menyeret tubuh tan-siok-nio

setelah sampai dimeja dimana kedua rekannya duduk, Tan-siok-nio didudukkannya dikursi dan di totok hingga kaku dan bisu, orang yang lalu lalang ditepi jalan berkerumun karena terkejut mendengar jeritan Tan-siok-nio
beberapa orang laki-laki kuat memberanikan diri mendekati tapi tak ayal mereka semua terlempar bagai layangan putus dipukul oleh toat- beng-kwi, melihat keadaan itu sebentar saja kerumunan itu berlari menjauhkan diri hingga keadaan didepan kedai sunyi kembali,  tidak ada lagi orang yang berani melintas lewat didepan kedai  

“heh…. pelayan ! siapkan makanan untuk tuan besarmu, cepat…! Hahhaa..hahhaa“ bentak toat beng kwi
kelima orang itu dengan gemetar kedapur mempersipakan makanan, kemudian mereka berlima menghidangkan makanan, meja sudah penuh hidangan dan ketika kelima pelayan hendak mundur tiba-tiba sebuah serangan kilat dari tok-sim-kwi membuat mereka terjungkal bergelimpangan tidak bergerak dan tenggorokan mereka meninggalkan bekas hitam

lalau ketiga iblis itupun mulai menyantap makanan, berselang satu jam kemudian ketiganyapun selesai menikmati santapan mereka, tiba-tiba toat-beng-kwi hendak menampar kepala Tan-siok nio
“eit.. tunggu dulu toat-beng ! wanita ini jangan dibunuh!”  tok-sim-kwi menangkap tangan toat-beng-kwi
“agh… kenapa ? wanita ini akan menyusahkan kita saja!” sungut toat- beng-kwi
“wanita ini tidak boleh dibunih karena saya butuh penjaga bayi yang kuculik” sahut tok-sim-kwi tegas
“dan juga wanita ini sangat cantik dan masih muda , tentu sangat menyenangkan disaat kita butuh hiburan.” tambah siang kiam kwi .
“ya sudah kalau begitu…” dengan muka mengkal toat-beng-kwi duduk kembali

setengah jam kemudian merekapun mencelat keluar dan meninggalkan kota kun-leng sambil membopong Tan-siok-nio
air mata Tan-siok-nio tidak henti mengalir karena rasa takut dan sedih yang menyergap dihatinya, mukanya pucat dan cemas makin tidak terperikan memikirkan suami dan anaknya

Dua jam kemudian setelah pembantaian di rumah kwee-bun, Han-tiong sampai didepan rumahnya , dia heran melihat orang berkerumun di dalam kedai ayahnya , orang-orang yang melihatnya segera memberi jalan dengan tatapan iba
“ada apa….apa yang terjadi !? tanyanya kepada orang-orang yang sedang menjajarkan  tujuh mayat

“ada apa lopek ..!?” tanyanya lagi dengan hati cemas
“aih… Han-tiong kasihan kamu nak .. “ sahut orang tua itu , Han-tiong dengan hati gemetar menyelip kedepan dia melihat tubuh ayahnya terbujur
“ayaaaaah ..ayahh , ooooh ayaaaah“ Han-tiong menjerit keras dan  pingsan, orang-orang terenyuh sesugukan melihat keadaan han-tiong yang pingsan karena histeris

satu jam kemudian han-tiong pun siuman dan kembali memanggil-manggil ayahnya membuat suasana makin memilukan hati yang memandangnya
“ayah … ayah… ah ibuu , mana ibuuu…. Ibuku mana …. Hu…hu…hu…” jeritnya lagi dengan tangis pilu
“han-tiong sabarlah nak ! keluargamu didatangi orang keji dan melakukan kekejian ini, dan ibumu …. ibumu dibawa mereka.“ sahut Bhok-siansu mendekati Han-tiong
“bhok-suhu..! siapa mereka suhu ? “ tanyanya disela sedu sedannya
“kami tidak tahu tiong-ji, mereka itu ada tiga orang “ jawab bhok-siansu

semalaman han tiong menangisi mayat ayahnya , baru keesokan harinya ketujuh mayat itu di kebumikan oleh penduduk, malam harinya Han-tiong ditemani beberapa orang tua dan ibu-ibu tetangga untuk menghibur kesedihannya hingga beberapa malam, setelah itu Kwee-Han-Tiong yang berumur lima tahun lebih menjalani sendiri kehidupannya dengan tabah, berusaha memenuhi dan menyelesaikan kebutuhannya dengan peninggalan orangtuanya yang lumayan

Han-Tiong masih terus mengikuti pelajaran dari Bhok-siansu , suatu ketika setelah tiga bulan ayahnya meninggal dan ibunya hilang Han-Tiong memasuki kamar orangtuanya sesaat hatinya getir merindukan ayah dan ibunya , kemudian Han-Tiong melihat sebuah peti yang biasa terletak didalam lemari yang hancur diruang tengah, peti kecil  itu awalnya berada dalam kotak hiasan kaca berisi air sehingga peti itu melayang terapung diatas air tapi sekarang kacanya sudah pecah dan airnya tumpah

dan mungkin setelah kejadian malapetaka itu para tetangga yang membersihkan bekas pecahan lemari menyusun dan meletakkannya didalam dikamar orangtuanya, Han-tiong tertarik dan ingin mengetahui isi peti itu, setelah peti itu terbuka maka didalamnya ada mainan kura-kura kecil, Han-tiong mengambil mainan kura-kura itu dengan hati heran

“aneh kok ada mainan kura-kura didalam peti..?” gumam han-tiong dalam hati sambil pegang sana sini dan tiba-tiba tempurung kura-kura itu bergeser sedikit “eh …” pikirnya terkejut, lalu dia gerakkan tempurung itu sampai menutup kepala kura-kura dan didalamya Han-tiong dapati sepucuk kertas yang terlipat, kertas itu diambilnya dan dibuka maka diapun membaca

Anakku kwee cin sisihan adikmu kwee can
Semoga hidupmu jauh dari pertentangan
Terhindar dari segala permusuhan dan kekejian
Jika aral melintang engkau dapat cobaan
Akibat kedurjanaan dunia persilatan
       Tiadalah salah engkau menegakkan keadilan
       Mengambil baju kegagahan disamping kelembutan
       Pulau kura-kura menyimpan bagian warisan
       Siap digunakan anak dan keturunan

                                                     Kwee Lun

Han tiong melihat ada sebuah gambar peta dibawah tulisan itu , dia berpikir lama , dia tidak tahu siapa kwee lun itu atau kwee cin namun pasti ini adalah moyangnya , maka dengan hati yang mantap dia berniat akan pergi mencari pulau kura-kura .

Keesokan harinya Han-Tiong menemui suhunya bhok-siansu
“suhu…, tecu berencana besok akan meninggalkan kun-leng.”
Bhok-siansu terheran-heran dan bertanya, “kamu mau pergi kemana tiong-ji?!”
“tecu akan pergi merantau suhu…”
“aih.. tiong-ji kamu masih kecil, berbahaya bagimu mengadakan perjalanan sendiri!” tegur Bhok-siansu
“tapi suhu…! tekad saya sudah bulat untuk menjalaninya, kong-cow saya sudah memanggil tecu.”
“eh.. apa maksudmu tiong-ji ? “ bhok siansu dengat kening berkerut memandang han-tiong
“saya tidak tahu suhu, tapi hati saya ingin pergi kesuatu tempat dimana kong-cow saya berada, jadi suhu ! saya hanya ingin suhu menolong saya untuk memberi tahu letak pulau kura-kura!”
“pulau kra-kura…” gumam bohk siansu
“benar suhu…! Tapi jika suhu tidak tahu tidak mengapa”
“hmh… baiklah tiong-ji…! jika keinginanmu tidak dapat lagi ditawar , keluarlah kamu dari pintu sebelah barat kota ini, berangkatlah menuju kota kaifeng dan bertanyalah dengan penduduk disana mungkin mereka tahu akan pulau itu”

“terimakasih suhu…, besok pagi tecu akan berangkat, dan satu hal lagi tecu memohon pada suhu.”
“apa itu tiong-ji!?”
“saya ingin menitipkan rumah kepada suhu selama saya pergi dan mohon kiranya suhu dapat menerimanya, suatu saat kalau hayat masih ada , saya akan datang kembali,”
“hmh.. baiklah tiong-ji, rumah keluargamu akan suhu perhatikan!”
“sekali lagi terimakasih suhu dan sekarang tecu mohon pamit.” Han-tiong kembali kerumahnya dan mempersiapkan diri untuk keberangkatannya  

Han-Tiong meninggalkan kota kun-leng dengan berbekal uang cukup banyak dan bekal baju lima stel berangkat menuju kota kaifeng, masuk hutan keluar hutan , masuk desa keluar desa, hari itu sampailah Han-tiong dikota kicu setelah dua bulan menempuh perjalanan, bekalnya sudah habis badannnya kumal berdebu

Han-tiong mendekati rumah makan, “heh…! untuk apa kamu berdiri disitu hayo pergi..pergi..! , gertak seorang berbadan kekar sepertinya tukang pukul rumah makan itu
“paman..! aku lapar sekali, aku dapat bekerja cuci piring, jadi tolong paman berikan aku pekerjaan untuk mengisi perut.”
“tidak ada pekerjaan disini, hayo pergi kau ! sebelum kupukul!” bentaknya dengan pasang muka angker, Han tiong pun meninggalkan tempat itu
     
Diperempatan jalan dia melihat ada rumah makan besar, lalu Han-tiong masuk gang yang mengarah kebelakang sebelah dapur rumah makan tersebut, kebetulan seorang juru masak sedang keluar dengan sekeranjang sampah basah
“eh kenapa kau kesini kamu mau apa?” tanya juru masak itu heran
“paman…! tolonglah aku ini, aku sejak semalam belum makan!” Han-tiong memelas sambil memegang perutnya
“aku akan bantu apa saja paman dan berikanlah saya makan!”
“apa kamu bisa cuci piring !?” tanya juru masak itu sedikit iba
“bisa paman , saya bisa mencuci piring.”
“baiklah kalau begitu dan mari kita kedalam!” ajak juru masak , setelah masuk kedalam dan tiga orang rekan juru masak heran melihatnya
“siapa anaka ini empek-kun!? tanya seorang rekannya
“anak ini kelaparan dan minta pekerjaan untuk mendapat makanan.”
“anak ini bisa apa!?” tanya rekannya yang lain
“katanya ia bisa cuci piring , nah itu piring dan mangkok kotor cucilah!” perintah juru masak pada Han-tiong
“baik paman…” sahut Han-tiong penuh semangat
“setelah selesai kamu boleh makan!” sambung juru masak yang dipanggil empek-kun , Han-tiong mengangguk dan melangkah ketempat pencucian
dengan semangat han-tiong melakukan pekerjaannya, hampir satu jam Han-tiong mencuci piring dan mangkok yang kotor
“paman ditarok dimana piring-piring ini!?”
“oh ya , tarok dirak piring sana!” sahut empek-kun menunjuk sebuah rak piring , kemudian empek-kun mengambil makanan yang hangat dengan lauknya

“ nah… , sekarang duduklah disini dan makanlah..!”  perintah empek-kun
Han tiong dengan sigap duduk dikursi yang ditunjuk empek-kun dan menerima semangkok nasi putih yang masih hangat dan dua mangkok lauk, Han-tiong mengambil sumpit dan mulai menyantap makanannya, dengan nikmat dan perlahan dia mengunyah nikmat makanan , rasa lapar memang membuat semuanya jadi enak dan nikmat , hal itulah yang dialami Han-tiong
“kalau kurang minta lagi yah !?” teriak empek-gan dari dekat tungku masak
“terimakasih paman…” sahut Han-tiong
0 Responses

Post a Comment

  • About Me

    Followers