“tak..tak…tak…,” ”ayok… anak-anak ikuti
perkataan saya!” teriak seorang siucai umur enam puluhan yang dikenal dengan
sebutan bhok-siansu, sambil memukul-mukul meja dengan gagang kamoceng berusaha
mendiamkan sepuluh orang murid-muridnya, namun dua orang murid yang masih
bergumul bercanda belum memperhatikannya,
“tiong-ji… duduk..! dan jangan ribut lagi ! mata
bhok siansu melotot ,anak yang dipanggil tiong itu langsung duduk dan dengan melipat
tangan dengan sikap siap menatap kedepan
“nah..! sekarang dengarkan semuanya dan
ikuti kata-kata saya!” Bhok-siansu
mengarahkan kamoceng kepapan tulis di depan sambil memperhatikan semua
murid-muridnya
“baik suhu…” , serempak suara murid menjawab
Hati manusia ibarat muara
Mata dan telinga ibarat sungai
hati selamat jauh dari binasa
jika mata dan telinga tidak dilalai
serempak semua murid mengikuti baris demi
baris ujar yang disampaikan oleh bhok siansu , setelah itu Bhok-siansu bertanya
“apakah kalian sudah mengerti maksud
ujar-ujar ini?”
“belum suhu…” jawab murid serempak
“hmh.. kalau begitu perhatikan!” Bhok siansu
menatap wajah murid-muridnya dengan arif
“kalian tentu tahu bukan!?, bahwa sungai mengalir
berakhir pada muara dan warna muara dipengaruhi oleh apa yang dibawa oleh
sungai, jelas…!?”
“jelas suhu…” jawab murid serempak ,
kemudian Bhok-siansu melanjutkan
“jika air sungai yang masuk kemuara adalah
air sungai yang jernih maka jernih jugalah muara itu , tapi sebaliknya jika air
sungai yang masuk kemuara itu kotor dan keruh maka kotor dan keruh jugalah muara
itu” kembali Bhok-siansu menatap semua muridnya yang hening mendengarkannya ,
lalu bhok siansu melanjutkan
“demikian jugalah hati manusia anak-anaku!,
baik dan tidaknya hati manusia tergantung hal apa yang dilihat oleh mata dan
didengar oleh telinganya , jika mata dan telinga melihat dan mendengar hal yang
baik dan benar maka hatinya akan baik dan benar , sebaliknya jika mata dan
telinga melihat dan mendengar hal yang jahat dan salah maka hatinya akan jahat
dan salah.” Bhok siansu terdiam sejenak sampil menatap semua muridnya
“sampai disini apakah kalian mengerti!?”
“mengerti suhu…”
“bagus..! Bhok-sian-su tersenyum senang
“selanjutnya, jika hati manusia itu baik dan
benar maka akan melahirkan tindakan yang baik dan benar sehingga ia akan
selamat dan sebaliknya jika hati manusia itu jahat dan salah maka akan
melahirkan tindakan yang jahat dan salah sehingga ia akan tertimpa binasa,
faham !?”
“faham suhu ….” Jawab semua murid
“maka dari itu ! jagalah mata dan
peliharalah telinga, karena dengan demikian hati kalian akan bersih dari
kekotoran yang pada gilirannya akan melahirkan tindakan-tindakan kalian yang
baik dan menyelamatkan kalian dari kebinasaan, mengerti semua.... !?
“mengerti suhu…”
“baik ! sekarang kalian boleh pulang!”
anak-anak itupun berdiri dan bubar setelah
menjura pada bhok siansu.
“Han-Tiong!, setelah ini kita keparit
dibelakang rumah empek sui untuk menangkap belut, ya !?
“baiklah ji-kun, tapi aku antar buku dulu
dan ganti baju”
“alaah…, tidak usah tiong, nanti kita
didahuli oleh bun-ti, dan kalau kita didahuluinya maka kita tidak mendapatkan
apa-apa”
“baiklah kalau begitu , mari kita pergi !”
Han-Tiong dan Ji-kun berlari-lari menuju
sebuah parit dan sesampainya di tepi parit, keduanya meletakkan buku dan gulung
celana, kemudian masuk kedalam parit dan mulai mencari-cari sarang belut ,
hampir dua jam Han-tiong dan Ji-kun didalam parit dan sudah mendapatkan beberapa
ekor belut , baju mereka sudah kotor karena kadang keduanya bercanda saling
lempar lumpur atau karena terjatuh akibat mengejar belut, sanking asiknya mereka
tidak sadar bahwa bhok-siansu berdiri di tepi parit.
“Han-tiong… , Ji-kun….!” kedua anak itu
segera mendongak, wajah mereka pucat setelah melihat bhok-siansu
“kalian belum pulang !?” bhok siansu
melototkan matanya , ji-kun sudah menunduk pucat
“belum suhu..” jawab Han-Tiong sambil
menunduk
“Han-Tiong..! bukankah seharusnya kalian
pulang dulu setelah itu baru main!?” kedua anak itu makin menunduk
“lihatlah ! baju kalian sudah kotor dan buku
kalian juga kena Lumpur!” Han-tiong mengarahkan pandangannya melihat buku yang
memang kotor kena Lumpur dan lalu berkata
“tecu mengaku salah suhu…” Han-tiong
menundukkan kepala
“saya juga suhu…” sambung ji-kun yang tetap
menundukkan kepala
“Han-tiong dan juga kau Ji-kun ! kalian
telah mengetahui salah kalian dan itu bagus, namun tetaplah kesalahan mendapat
sanksi dan hukuman , jadi kalian harus dihukum!”
“baik suhu…! tecu akan terima hukuman.” Han-tiong
keluar dari parit dan melangkah mendekati bhok-siansu, sementara ji-kun mengikuti
dibelakangnya
“Han-Tiong..! kamu harus tulis ujar yang
kamu pelajari tadi sebanyak seratus kali, demikian juga kamu ji-kun!”
“baik suhu…! tecu akan lakukan
“tecu
juga suhu….” sambung ji-kun
“baik…! sekarang kalian pulanglah!”
“terimakasih suhu…” jawab Han-Tiong dan
kemudian keduanyapun segera meninggalkan tempat itu
“aah… suhu malah menghukum kita Tiong…! malas
aku menulis ujar-ujar itu.” Ji-kun
merengut setelah jauh dari bhok siansu
“kita mesti terima dan menjalani hukuman itu
, ji-kun ! dan kita memang tadi salah!”
“ah… peduli amat, aku hanya mau tulis
sepuluh saja sebab nanti malam ada pasar malam.”
“ya sudah ! terserah kamu saja!” sahut
Han-Tiong dan kemudian keduanya berpisah dan menuju kerumah masing-masing
Siang itu kota kun-leng sangat
ramainya, banyak orang hilir mudik untuk menyelesaikan aktivitasnya , toko dan
kedai banyak diserbu oleh pengunjung untuk mempersiapkan pesta keluarga
menjalani sin-cia (musim semi)
Salah satu rumah makan dipadati oleh orang
yang akan makan siang dan para pelayan sibuk melayani tamu yang datang dan
pergi silih berganti
“pelayan .. !” seorang tamu memanggil ,
orang itu kelihatan baru menempuh perjalanan jauh karena pakaiannya nampak
kotor berdebu
“iya kongcu , kongcu mau pesan apa !?” tanya
pelayan bernama a-kiong
“hidangkan masakan terlezat…! baik kongcu
dan minumannya kongcu ?!”
“demikian juga minumannya arak terbaik !”
“baiklah kongcu segera akan disajikan.” a-kiong
segera memutar badan meninggalkan tamu tersebut pergi kebelakang untuk
mempersiapkan pesanan
siapakah tamu yang kelihatan dari perjalanan
jauh ini ? , dia adalah seorang tokoh kangowu yg memiliki ilmu yang lihai ,
namanya Lie-cin-bun berjulukan gobi-kiam-sian (Dewa pedang gobi) , umurnya sekitar empat puluh tahun dengan perawakan yang kuat dan gagah ,
dia adalah murid utama liu-sang-hewsio dari gobi-pai yang diutus perguruannya
untuk memenuhi pertemuan di jeng-hoa-san (bukit seribu bunga) yang diseponsori
oleh perkumpulan “Lo-I-Kaipang” (pengemis
baju butut) yang dipimpin oleh song-tiaw-leng yang berjulukan koai-tung-kai
(pengemis tongkat aneh)
Ketika akan menyantap hidangan , gobi-kiam-sian
melihat seorang tamu yang baru masuk , rambutnya berwarna putih tapi wajahnya
masih gagah dan kencang karena umurnya sepantaran dengan gobi-kiam-sian,
seorang pelayan langsung menyambutnya dengan senyum ramah , “silahkan kongcu ! pelayan
itu membawanya kesebuah meja kosong
“sicu Pek-mou-liong…!”(Naga berambut putih)
gobi-kiam-sian menegur sambil berdiri
“aha… ternyata gobi-kiam-sian sudah pula sampai
di sini ,oh ya pelayan ! saya duduk semeja dengan sahabatku ini”
“baiklah kalau begitu kongcu!” sahut pelayan
dan hendak beranjak
“dan tolong pesanan saya sama dengan
saudaraku ini!”
“baiklah kongcu.” pelayan itu segera menuju
kebelakang
“bagaimana kabar Cia-sicu..! ,baik-baik saja
bukan!?” tanya Lie-Cin-Bun
“aku baik-baik saja Lie-sicu , dan bagaimana
pula dengan keadaanmu?”
“aku juga baik-baik saja. Lie-sicu” Jawab
Liem-Cin-Bun
“apakah loncinpawe kunlun-tojin ciangbujin
yang menugaskan cia-sicu untuk pertemuan di jeng-hoa-san!?”
“benar Lie-sicu , dan tentu sicu juga
demikian , bukan ?!” gobi-kiam-sian mengangguk
Ketika pesanan pek-mou-liong dihidangkan ,
gobi-kiam-sian nyelutuk karena melihat tamu yang baru datang
“wah..! sicu pek-lui-sin (malaikat geledek)
dari Hoasan-pai dan Bu-eng-kiam (pedang tanpa bayangan) dari kotong-pai sudah
datang!”
Pek-mou-liong yang membelakangi pintu masuk rumah
makan memutar tubuhnya dan melihat dua tamu yang baru masuk
“pek-mou-liong..! ternyata sicu sudah sampai
dari kun-lun-san,”
“benar sicu pek-lui-sin, mari… ! sekalian
saja kita satu meja!” ajak pek-mou-liong, pek-lui-sin dan bu-eng-kiam duduk dan
memesan makanan.
Dan sebelum pesanan pek-lui-sin datang ,
empat orang tamu masuk
“wah.. pek-lek-jiu juga sudah datang.” Sela
pek-lui-sin
“aha…, sicu pek-liu-jiu (si tangan gledek) haha..haha..
mumpung kita berada disini jadi sekalian saja kita barengan makannya!” ajak
Bu-eng-kiam
“benar sicu pek-liu-jiu, marilah kita duduk
bersama!” sambung pek-lui-sin
dua orang pelayan datang dan menggeser meja
kosong terdekat menyatukan dengan meja yang sudah diduduki dan kemudian salah seorang
pelayan menanyakan pesanan kepada pek-liu-jiu , setelah pelayan pergi kedelapan
pendekar itu melanjutkan pembicaraan demikian akrab
“kebatulan
sekali kita dari delapan partai memasuki rumah makan yang sama, tidak tahu apakah
tujuan kita juga sama.” sela pek-liu-jiu
“saya dan pek-mou-liong ingin ke
jeng-hoa-san ! sicu-pek-liu-jiu.”
“wah.., demikian juga kami sicu gobi-sian-kiam,
saya…, sicu tung-sin-hiap (pendekar
tongkat sakti) dari thaisan-pai, sicu-sin-kun
(si kepalan sakti) dari butong-pai , sicu sin-coa-hiap (pendekar ular
sakti) dari hengsan-pai” sambung pek-liu-jiu
“hemhh.., kebetulan juga sicu pek-liu-jiu saya
dan sicu bu-eng-kiam dari kotong-pai akan ke jeng-hoa-san.” sela pek-lui-sin
“kebetulan yang menyenangkan sicu sekalian
dan karena makanan suidah terhidang sebaiknya kita makan!” sela gobi-kiam-sian sambil
mengambil sumpitnya dan yang lainpun segera mengambil sumpit masing-masing
Pemilik rumah makan itu adalah seorang she
kwee yang bernama Bun yang masih tergolong muda karena umurnya baru tiga puluh
tahunan , dia sedang duduk dimeja di sudut ruangan sambil sibuk membuat peta
kursi tamu yang dipadati tamu , kwee-bun sesekali melihat kedelapan tamunya
yang kesemuanya berbadan kekar dan lincah serta rata-rata umur tiga puluhan
sampai empat puluh limaan dan karena kedelapan orang itu bukan orang tempatan, “
hmh.. orang-orang ini dari kalangan liok-lim dan kelihatannya mempunyai tujuan
yang sama.” pikirnya
Setelah lama duduk dan memperhatikan para
tamu yang lagi makan , kwee-Bun merasa bosan , lalu ia berdiri dan masuk keruang
dalam , sementara didalam istrinya Tan-siok-nio yang cantik berumur dua puluh
lima tahun sedang menyulam, melihat suaminya datang, Tan-siok-nio berhenti
dengan sulamannya dan melemparkan senyuman manis pada suaminya
“sepertinya
kedai kita hari ini benyak tamu koko!”
“benar
niocu , dan banyak tamu dari luar daerah, mungkin mereka ada pertemuan entah
dimana.” sahut Kwee-Bun sambil duduk di kursi goyangnya dan menyandarkan tubuh
“apakah mereka dari kalangan kangowu!?”
“kelihatan demikianlah niocu, karena melihat
kesigapan dan kokoh tubuh mereka, tentu mereka dari kalangan persilatan.”
“biarlah, yang penting tidak mengacau saja
di sini!”
“semoga saja niocu.” sahut kwee-Bun sambil
menggoyang kursi goyangnya
“hmh.. Tion-ji kemana…!?” tanya Kwee-Bun
memecah kesunyian
“Tiong-ji sudah pergi bermain setelah
mengerjakan tulisan yang disuruh bhok-siansu.” Jawab Tan-Siok-Nio sambil meletakkan
sulamannya dan berdiri, kemudian melangkah mendekati meja mengambil kumpulan
kertas yang ada diatasnya dan mendekati suaminya
“koko, ini yang dikerjakan tiong-ji.”
Tan-Siok-Nio memperlihatkan pekerjaan kwee-Han-Tiong kepada suaminya, Kwee-Bun
melihat hasil kerja anaknya dengan kagum ,betapa tidak ! anaknya yang baru
berumur lima tahun itu sudah
mahir membaca dan menulis
Kwee-bun terkenang saat bhok-siansu
mendatangi rumahnya, “Bun-ji ! sungguh anakmu itu luar biasa cerdasnya, hanya
dia agak nakal dan suka berkelakar.”
“dihukum saja siansu…! kalau tidak mau
dinasehati!”
“hahahaa, anakmu itu sudah berkali-kali saya
hukum bun-ji dan dia menurut saja.”
“maksud siansu !?” tanya Kwee-Bun heran
dengan kening berkerut
“kadang saya suruh menimba air untuk
memenuhi tempayan dia tidak pernah protes atau mengeluh dalam mengerjakannya,
saya suruh lari seratus kali keliling rumah saya juga tanpa membantah dia
lakukan, saya suruh lompat kodok naik tangga kuil giok-lian tanpa bersambat dia
lakukan,”
“hmhh.. , lalu bagimana siansu!?”
“hmh.. ,saya sudah jera menghukumnya bun-ji,
tapi yang jelas Han-Tiong itu nakal tapi nakal yang bertanggung jawab, entah
darah siapa dari keluargamu yang menurun kepadanya bun-ji!” bhok-siansu sambil
tertawa meninggalkan kwee bun yang keheranan
“apa yang bun-ko pikirkan ..?” tanya
istrinya sehingga lamunan kwee-bun buyar mendengar pertanyaan istrinya
“hmh .. saya teringat akan perkataan bhok-siansu
tentang Han-Tiong.”
“hal apa itu koko !? , apa hal kenakalan
tiong-ji !?”
“benar niocu, karena pernah siansu berkata
bahwa Tiong-ji nakal tapi kenakalan yang bertanggung jawab!”
“lalu kenapa koko !? , bukankah lumrah
anak-anak itu nakal !?”
“benar nioucu ! tapi bukan itu masalahnya.”
“lalu masalahnya apa koko !?”
“siansu mengherankan entah dari kerturunan
kita yang mana menurun pada anak kita itu.”
“jadi menurut koko keturunan kita yang mana
!?”
“soal kecerdasan dalam tulis baca dan
hafalan anak kita ini tidak mengherankan karena dari dulu kong-cow nya (kakek
buyut) juga terkenal sebagai siucai yang
handal.”
“mugkin saja dari siok-kong-cow nya (paman
kakek buyut) bun-ko!”
“benar…., boleh jadi demikian niocu, sebab siok-kong
kwee-seng orang terkenal dizamannya sebagai pendekar dengan julukan kim-mo-taisu
(guru besar setan emas) terlebih muridnya kim-siaw-eng (suling emas).”
terbayanglah Kwee-Bun akan cerita kakeknya
saat menceritakan keturunannya yang mana kong-couwnya kwee-lun yang tinggal di
pulau kura-kura memiliki anak laki-laki kembar kwee-can dan kwee-cin , susiok-kongcouwnya
kwee-can sangat suka ilmu surat dan silat, sementara kwee-cin kongcouwnya hanya
suka ilmu surat, kwee-cin menurunkan kongkongnya kwee-tin sementara kwee-can
menurunkan susiokongnya kwee-seng atau kim-mo-taisu, kim-mo taisu, kwee-seng
hanya punya anak perempuan kwee-eng dan meninggal muda , kwee-tin menurunkan
ayahnya kwee-sin dan kwee-sin menurunkannya dan dia sendiri menurunkan anaknya
Kwee-Han-Tiong . Dan sepertinya Kwee-Han-Tiong kemungkinan besar sangat suka
ilmu surat dan silat
sebagaimana kwee-seng seorang siucai yang gagal nan sakti
“sudahlah koko.. , koko kedepan lagi ! mana tahu
ada orang memerlukan disana!” sela istrinya dan memnuyarkan kenangannya
“oh
iya, aku kedepan dulu!” kwee-bun meninggalkan
istrinya dan duduk kembali disudut ruangan kedai hingga sorepun menjelamg
Sore harinya setelah kedai sunyi maka
kedaipun dibersihkan dan ditutup , sementara di bukit jeng-hoa-san sekumpulan
orang sedang berkumpul , api unggun telah dinyalakan dan kedelapan utusan
partai besar yang sama makan di tempat kwee-bun sudah berada di tempat itu.
Kemudian dibagian lain koai-tung-kai dan
sepuluh anggotanya Lo-I-kaipang juga sudah hadir, dibagian lain ada seorang
lama baju kuning, mukanya bundar dengan kepala gundul dengan tubuh pendek gemuk
asik memutar rosario dengan mata terpejam, dia adalah hong-san-lama utusan dari
Tibet murid tingkat dua, selanjutnya
dibagian lain seorang nikow berumur lima puluh tahun sedang duduk bersemedi
dengan melipat tangan dan tangan kanannya memegang hudtim, walaupun umurnya
sudah setengah abad namun garis kecantikannya belum pudar , nama nikouw itu
adalan Lan-nikow , dan yang terakhir adalah sepasang suami istri yang dikenal dengan
julukan sin-yan-siang (sepasang walet sakti) liem-bu-sin dan istrinnya bu-goat-eng
ketika malam telah datang , bulan purnamapun
sudah muncul dan langit dihiasi bintang gemintang yang bertaburan maka koai-tung-kai
membuka pertemuan
“rekan-rekan sehaluan, pertama saya ucapkan
terima kasih atas kesudian para enghiong dan loncinpawe memenuhi undangan kami!”
Koai-tung-kai menjura ke empat arah dengan takzim kemudian melanjutkan
“hal pertemuan kita ini sebagaimana dalam
undangan kami adalah sehubungan dengan apa yang terjadi dikalangan kita yang membuat
kita semua prihatin, yang mana setengah tahun yang lalu terjadi geger akan
sepak terjang dari golongan sesat yang tidak memandang sebelah matapun terhadap
kita,“ koai-tung-kai diam sejenak melihat kesemua undangannya .
“Dan dari penyelidikan anggota kami, maka
kami mendapatkan berita yang sangat mengejutkan, dan oleh sebab itulah kami
mengundang sicu enghiong semua ketempat ini, karena menurut saya perlu
diketahui bersama oleh para ciangbujin partai persilatan yang sudah hadir
disini semuanya dengan utusannya, begitu juga para loncinpawe dan enghiong
semua yang tersangkut langsung dengan peristiwa menggemparkan tersebut.”
Peristiwa yang dimaksud koai-tung-kai adalah
dimana delapan partai besar kehilangan benda pusaka pada enam bulan yang lalu ,
siauwlim-pai kehilangan bokor emas , hoasan-pai kehilangan giok-kiam (pedang
kemala) , thaisan-pai kehilangan pek-liong-kiam (pedang naga putih) , Butong-pai
kehilangan kitab pusaka thay-kek-kun (ilmu pukulan taichi) , seminggu kemudian kunlun-pai
kehilangan swat-lian (teratai salju) sejenis obat yang langka , khotong-pai
kehilangan kitab im-kan-sin-kang (tenaga sakti arhat) , gobi-pai kehilangan senjata berupa hudtim
bergagang emas , dan hengsan-pai kehilangan kitab pusaka ngo-heng-gan-te (lima
elemen memutar bumi) dan sebulan kemudian pustaka dalai lama di obrak abrik
tanpa diketahui siapa pelakunya, namun tidak ada barang yang hilang, kemudian
kwan-im-bio yang dipimpin lan-nikow kehilangan bwee goat (bunga bulan) sejenis
obat untuk kaum wanita , dan tiga bulan yang lalu putri Liem- bu-sin yang
berumur satu tahun yang mereka namai Liem-swat-hong hilang ditangan pembantunya
walhal mereka berada di rumah
Hari itu mereka berdua sedang berlatih
dibelakang rumah , sementara pembantunya yang biasa menggendong anaknya berada
di beranda depan rumahnya , tiban-tiba pembantu tersebut mati kaku dengan bekas
totokan berwarna hitam dan anak digendongannya hilang entah kemana, senyap dan
tidak sedikitpun pasangan itu menyadari, setelah dua jam mereka berlatih maka
bu-goat-eng sambil mengusap keringatnya keluar menuju ruang depan namun
alangkah terkejutnya ketika melihat pembantunya tergeletak di lantai , “sin-ko
….” jeritnya dengan keras
Liem-bu-sin yang mendengar teriakan istrinya
langsung berlari ke ruang depan dan mendapatkan istrinya yang sedang memperhatikan
tanda hitam di leher pembantunya
“ada apa eng-moi!” tanya bu-sin sambil
berjongkok dekat istrinya
“tidak tahu … saya dapati pek-bo sudah tergeletak begini, ah..
anak kita koko dimana anak kita…!?”, jeritnya lirih dengan muka pucat dan cemas
keduanya langsung bergerak mencari keseluruh
ruangan rumahnya namun anaknya tidak diketemukan , kembali mereka bertemu
diruang tengah
“koko…anakku diculik “ bu-goat-eng tidak
kuasa menahan air matanya , rasa kekhawatiran sangat tergambar diwajah cantik
itu
“tenanglah eng-moi…! , sekarang kita
berpencar dan nanti malam kita kembali kesini , mungkin penculik itu belum
jauh!“ Liem-bu-sin mencoba menenangkan istrinya, kemudian mereka pun berpencar
, Liem-bu sin kebarat sementara bu-goat-eng ke timur, mereka bertanya-tanya
disepanjang jalan kepada orang dan tetangga yang mungkin melihat orang membawa
anak mereka namun hasilnya nihil.
Malamnya mereka sudah kembali kerumah dengan
wajah lelah dan pucat , Bu-goat-eng menubruk suaminya dengan buncahan tangisan
“sudahlah eng-moi…!, setelah mayat pek-bo
dikuburkan kita berkemas untuk mencari
anak kita!”
“aku khawatir dan cemas sekali memikirkan
yang terjadi dengan hong-ji!”
“tenangkan dirimu eng-moi…! dan satu hal
yang pasti anak kita tidak dibunuh, sebab kalau penculik itu berniat membunuh
untuk apa dia culik anak kita!” hibur liem-bu-sin sambil mengusap kepala
istrinya .
Dua hari kemudian setelah pembantu tersebut
dikubur sepasang pendekar itu berangkat
“koko.., alangkah luar biasa saktinya orang
yang menculik hong-ji , sehingga kita tidak tahu akan kedatangannya kerumah
kita.”
“benar niocu, orang itu tentu orang sakti
dari golongan hitam, karena demikian kejinya totokan yang ada ditenggorokan pembantu
kita itu.”
“aku akan mengadu nyawa dengan orang itu…!” bu-goat-eng
mengepal tangannya dengan muka marah
“ benar… , demikian juga aku eng-moi ! untuk
anak kita, apapun akan kita hadapi bersama !” Liem-bu sin memegang tangan
bu-goat-eng untuk memberikan kekuatan pada hati bu-goat-eng yang cemas sebagaimana
juga dirinya .
Selama dua bulan mereka terus mancari namun
tiada hasil seakan anak mereka dan penculik itu hilang ditelan bumi , dan
sebulan yang lalu mereka mendapatkan undangan dari lo-I- kaipang yang di ketuai
koai-tung-kai untuk mengadakan pertemuan di jeng-hoa-san, dan malam itu mereka
berada di jeng-hoa-san untuk memenuhi undangan tersebut
“koai-Tung kai , apa yang telah kamu
dapatkan dari hasil penyelidikan anak buahmu tentang masalah yang melanda kita
ini!?” tanya hongsan-lama
“benar.. , bagaimana dan apa yang song-pangcu
dapatkan!? sela sin-coa-hiap dari hengsan-pai
“begini para enghiong semua, kejadian yang
beruntun ini tentu didalangi oleh orang yang berseberangan dengan kita, kami
juga mengalami hal yang serupa dengan para sicu semua, yang mana dua bulan yang
lalu perkumpulan kami dicabang utara diobrak abrik dan markas kami dibakar,
enampuluh anggota kami dibabat dengan keji oleh orang tersebut“ Kaoi-tung-kai
mengepal tinjunya dengan hati geram dan marah
“hmh.., alangkah durjananya orang itu pangcu,
lalu siapakah mereka itu!?” sela hong-san-lama, utusan kedelapan partai besar juga
terkejut dan marah mendengar kekejian itu .
“bangsat keji yang tidak berperikemanusiaan”
sela sin-coa-kiam geram sambil mengepal tinjunya
“huh..memang golongan kita telah dihina “
pek-mou-liong mendengus marah
“lalu bagaimana song-pangcu!?” tanya utusan
shaolinp-pai
“begini yo-losuhu dan enghiong semua…, dari
pengakuan pimpinan cabang utara sebelum meninggal, mengatakan bahwa yang
menyerang mereka itu seorang yang sangat sakti dengan senjata pedang kembar,
dan orangnya sekitar umur lima puluh tahun dengan jenggot dua warna hitam dan putih,
kemudian kami sebar anggota di seluruh cabang untuk menyelidiki orang dengan
ciri tersebut, maka sebulan yang lalu kami dapatkan berita bahwa orang itu
adalah siang-kiam-kwi (iblis berpedang kembar).” Semua peserta pertemuan diam
mendengarkan , lalu koai-tung-kai melanjutkan
“dan kami juga mendengar berita bahwa
golongan hek-to sudah memiliki pimpinan yang dikenal dengan thian-te-sam-kwi
(tiga iblis dunia) dan salah satunya adalah siang-kiam-kwi , yang kedua adalah
tok-sim-kwi (iblis berhati racun) dan yang ketiga adalah toat-beng-kwi (iblis
pencabut nyawa).”
“lalu menurut song-pangcu, bahwa anak kami hilang
karena diculik salah satu thian-te-sam-kwi!”
“benar toanio…, besar sangkaan saya demikian
! karena menurut anggota kami juru masak cabang utara yang sedang mengambil air
ketika itu di hutan belakang markas , dia melihat bayangan seorang yang berperawakan tinggi memasuki
dapur dan lalu membakarnya, dan dipunggung orang itu ada gendongan , sementara
menurut penyelidikan kami bahwa perawakan itu dimiliki oleh tok-sim-kwi.”
“oh …. Anakku!“ gumam bu-goat-eng lirih
“tenanglah eng-moi…” Liem bu sin menyentuh
pundak Bu-goat-eng untuk menenangkan istrinya .
“lalu bagaimana dengan hilangnya pusaka
delapan partai ,song pangcu !?” tanya pek-liu-jiu
“sicu pek-liu-jiu…! hal itu juga jelas
perbuatan mereka.”
“bagimana song pangcu begitu yakin sementara
mereka tiga orang dan kabar kehilangan empat partai pada malam yang bersamaan.”
Sela gobi-kiam-sian
“benar sicu gobi-kiam-sian , memang rasanya
tidak mungkin, tapi kita juga harus tahu bahwa pembantu-pembantu iblis ini juga
tidak kurang lihainya, hal itu dapat kita ketahui dari apa yang di alami oleh
delapan partai besar.”
“maksudnya bagaimana , song-pamgcu !?” tanya
sin-coa-hiap
“maksudnya , kebobolan yang dialami delapan
partai besar tidak mungkin dilakukan oleh orang sembarangan kecuali orang yang
melakukannya adalah orang-orang sakti dan luar biasa , jadi tidak salah jika
kita menyimpulkan bahwa ini didalangi ketiga iblis itu.” sahut koai-tung-kai
meyakinkan
“saya belum melihat keterkaitan antara
kehilangan delapan partai dengan thian-te-sam-kwi , pangcu !” sela sin-coa-hiap
“begini sicu sin-coa-hiap , thian-te-sam-kwi
telah merajai hek-to dan orang-orang sakti dikalangan itu merasa memiliki
naungan dan pusat kekuatan sehingga mereka juga mulai unjuk gigi dengan membuat
kehebohan.”
“jadi intinya oleh karena mereka sudah
merasa kuat karena adanya thian-te-sam-kwi maka mereka melakukan hal yang
menggemparkan kita, demikiankah maksud song-pangcu!?” sela sin-coa-hiap
“benar sekali sicu sin-coa-hiap , kalau
tidak untuk apa mereka lakukan hal tersebut kalau tidak untuk menghina golongan
kita.” sahut koai-tung-kai
“kalau begitu ketiga iblis ini tidak bekerja
sendiri-sendiri.” Sela Lan-nikouw
“benar suthai, mereka memiliki kaki tangan yang
lihai.”
“dugaan song-pangcu memang beralasan karena pustaka
di Lasa juga yang diobrak abrik oleh setidaknya tiga orang , pustaka kami
memiliki tiga ruangan yang berlainan
tempat , dan waktu bersamaan ketiganya diobrak-abrik.” sela hongsan-lama
“sejauh penyelidikan song pangcu dan anak buah , apakah kalian tahu sarang
mereka ?!” tanya Liem-bu-sin
“kami belum tahu Liem-taihap”
tiba-tiba terdengar suara ketawa yang demikian
kuat sehingga tempat itu bergetar, sepuluh anggota lo-i-kai-pang terjungkal
muntah darah dan dari mata telinga mereka juga mengalir darah segar , sesaat
mereka berkelonjotan dan akhirnya terdiam dengan nyawa melayang
ke tiga belas orang peserta pertemuan, sekuat
tenaga membentengi diri dengan sin-kang berusaha melawan suara ketawa yang
menggetarkan jantung itu, berselang setengah jam ketawa itu berhenti dan muncullah
tiga orang iblis yang baru mereka bicarakan
yang membuka mata pertama sekali adalah
hongsan-lama dan kemudian Lan-nikow , Hongsan-lama yang melihat sepuluh
pengemis yang bergelimpangan mati sambil berdiri menegur
“alangkah tidak manusiawinya kalian semudah
itu menyebar maut.”
sementara yang lain-lain juga berdiri dengan
wajah pucat , Bu-goat-eng memegang tangan suaminya ,terasa lemah tubuhnya
karena jantungnya hampir pecah akibat suara ketawa tersebut,
“hahaha…. Lama bau..! thian-te-sam-kwi
memang kerjaannya menyebar maut , lalu kamu apa!? , mau menantang kami, hah…!”
tantang lelaki berperawakan tinggi dengan jumawa dia adalah tok-sim-kwi
“heh … kalian mau cari sarang kami bukan ?,
hahah..haha…hahaha, tidak usah repot-repot, kami sudah di sini mendatangi
kalian, malam ini thian-te-sam-kwi akan mengadakan pesta kecil, hahaha…hahhaa.
Hahaha….” orang yang banyak tertawa itu memiliki tubuh kate dia adalah
toat-beng-kwi,
“siapa mau mati duluan ayo maju…!” tantang
toat-beng-kwi dengan sinis
“toat-beng.. ! kenapa satu-satu, sekalian
saja semua diajak pesta!” sela tok-sim-kwi sambil mencibir sinis
tanpa dikomando ke tigabelas orang itu
menggebrak kedepan menyerang thian-te-sam-kwi dan luar biasanya ketiga iblis
itu mengulurkan tangan kedepan
“blamm…..” terdengar benturan keras diudara
dan tiga belas tubuh terlempar kebelakang sampai sepuluh tindak, lalu semua
pendekar itu bangkit dan bersiap menyerang dengan jurus masing-masing
Liem-bu-sin dan isteri, lan-nikow, koai-tung-kai
dan hongsan-lama berhadapan dengan siang-kiam-kwi yang berjenggot hitam putih
sementara sin-tung-hiap, sin-coa-hiap, sin-kun dan gobi-kiam-sian berhadapan
dengan tok-sim-kwi dan dibagian lain pek-mou-liong, pek-liu-jiu, bu-eng-kiam
dan pek-liu-sin berhadapan dengan toat-beng-kwi
“rekan-rekan semua untuk menghadapi iblis,
kita tidak perlu pakai peradatan , mari kita serang…!” teriak koai-tung-kai
sambil menyerang
“hahaha..hahaha , kalian keroyokpun kalian
akan dibabat habis!” sahut toat beng kwi sambil menggenjot tubuh kecilnya
dengan kecepatan luar biasa mengeluarkan swe-goat-kwi-eng-hoat (jurus bayangan
iblis meraup rembulan)
ke empat lawanya memapaki serangan tersebut dengan jurus masing-masing , “blammm… des…wut…
, pek-mou-liong menangkis pukulan tangan kanan toat-beng-kwi sedang pek-liu-jiu
menangkis tangan kirinya, pek-lui-sin menyambut tendangan toat-beng-kwi dengan
cengkraman sedang bu-eng-kiam menyambut tubuh toat-beng-kwi dengan tusukan pada
lambung
tiga tenaga sin-kang menyeruak udara malam ,
tangan pek-lui-sin kena tendang sementara tusukan bu-eng-kiam luput karena
tubuh toat-beng-kwi melenting keudara setelah beradu pukulan dengan
pek-mou-liong dan pek-liu-jiu sementara pek-mou-liong dan pek-liu-jiu terlempar
lima tindak
pek-lui-sin merasakan tangannya terasa sakit
karena cakarannya ditendang toat-beng-kwi sementara bu-eng-kiam melanjutkan serangannya dengan
gencar namun gin-kang toat-beng-kwi amatlah luar biasa sehingga pedang
bu-eng-kiam selalu luput mengenai tempat kosong
kembali toat-beng-kwi dikeroyok empat pendekar
tersebut, tiga puluh jurus sudah berlalu, gin-kang yang luar biasa ringannya dari toat-beng-kwi membingungkan ke empat pendekar,
sementara sin-tung-hiap, sin-kun, sin-coa- hiap dan gobi-sian-kiam menerjang
tok-sim-kwi yang menggunakan jurus “sim-lo-tiam-hoat” (ilmu totokan meremukkan
hati) memapaki semua serangan
dibagian lain siang-kiam-kwi dengan ilmunya
yang lihai te-thian kiam-hoat (jurus pedang bumi langit) pedang ditangan
kanannya memaki dua bilah pedang dari sin-yan-siang dan tongkat dari koai-tung-kai
dan pedang yang dikiri membendung kebutan hudtim Lan-nikow dan rosario Hongsan-lama , pedang
siang-kiam-kwi menggulung laksana gelombang ombak samudra meruntuhkan semua serangan
diterangi cahaya bulan dan kobaran api
unggun pertempuran segit berlangsung, pertempuran yang terbagi tiga kelompok
itu demikian ramainya dan walaupun dikeroyok thian-te-sam-kwi dengan handal
menangkis dan balas menyerang , bahkan masing-masing semakin lama semakin
mendesak lawan-lawan mereka
dan pada waktu yang hampir bersamaan totokan
tok-sim-kwi mengenai leher bagian belakang sin-coa-hiap , sehingga sin-coa-hiap
jatuh tertelungkup tidak bergerak karena nyawanya sudah melayang
sementara toat-beng-kwi mencengkram perut
bu-eng-kiam sehingga perutnya hancur berantakan tanpa bersambat nyawanya juga
putus dan disisi lain pedang siang-kiam-kwi merobek lambung bu-goat-eng
sehingga ia terduduk memegang lambungnya
“cepat eng-moi kamu turun bukit, kamu harus
hidup moi-moi untuk anak kita!” teriak liem-bu sin sambil menagkis tusukan
pedang siang-kiam-kwi
“trang…..” percik api berpendar dari adu pedang
tersebut, Bu-goat-eng memandang suaminya meragu
“lekas eng-moi…wuut…, liem-bu-sin berteriak
lagi sambil membabat kaki siang kiam kwi namun luput
ketika siang-kiam-kwi berpoksai setelah
beradu pukulan dengan hongsan hewsio dan menghindari sabetan pedang liem-bu-sin,
Bu-goat-eng menggelinding menjauhi pertempuran , tapi tiba-tiba toat-beng-kwi
saat beradu pukulan dengan pek-liu-jiu dan pek-mou-liong dan berhasil
merubuhkan kuda-kuda keduanya kemudian dengan gerakan cepat mencengkram bahu pek-lui-sin dengan tangan
kanannya dan tangan kirinya memukul kearah Bu-goat-eng dengan jurus “giok-in-sai-mo”
(setan alas melempar mustika) memang tidak telak kearah punggung bu-goat-eng
namun hawa pukulan itu sudah cukup
membuat nyonya itu terlempar kedepan tiga tindak dan mengakibatkan muntah darah
Bu-goat-eng terus menuruni bukit jeng-hoa-san
sementara pertempuran diatas semakin segit dan seru, seratus jurus sudah berlalu
dan pada jurus berikutnya
“craat…cepp..aghh…craat…tanggg…traangg…”
hudtim
Lan-nikow terlepas karena tangannya kena sabet pedang dan disusul tusukan pada
dadanya hingga masuk tiga dim kemudian dada itu robek menganga karena pedang
siang-kiam-kwi tanpa dicabut menangkis tongkat koai-tung-kai kemudian pedang
itu bergerak membacok pedang liem-bu-sin yang akan menusuk lambungnya
Lan-nikow terkapar tak bernyawa dengan dada
menganga robek besar, sementara tok-sim-kwi totokannya mengenai dada sin-kun sehingga tewas dan toat-beng-kwi sudah menumbangkan pek-liu-jiu
ketiga iblis itu semakin gencar dan seakan
berlomba untuk menumbangkan lawan-lawannya dan pada jurus ke dua ratus toat-beng-kwi
mencengkram tangan pek-mou-liong dan pek-lui-sin “prak…praak..bukk…bukk..”
terdengar jemari tangan yang remuk dan tanpa menunda toat-beng-kwi menyusulkan
dua pukulan sakti menghantam dada pek-mou-liong dan pek-lui-sin sehingga keduanya
terlempar dengan nyawa putus
tidak lama kemudian gobi-kiam-sian dan
sin-tung-hiap menerima dua totokan maut dari tok-sim-kwi yang mengenai dada dan
leher sehingga keduanyapun tewas, sementara siang-kiam-kwi sudah membacok leher
koai-tung-kai hingga tewas tanpa bersambat
Liem-bu-sin dan hongsan-lama berusaha
matia-matian mempertahankan diri namun toat-beng-kwi yang sudah menewaskan
kedua lawannya tiba-tiba menyerangnya dengan jurus giok-in-sai-mo , dan tak
ayal liem-bu-sin terlempar dan isi dadanya remuk dan tewaslah suami yang gagah
itu , hongsan-lama tidak lama menyusul setelah tusukan pedang siang kiam kwi
menusuk dada hingga tembus kepunggung dan hongsan-lama pun tewas seketika .
“huh …phuah.. mampus sudah semua!” toat-beng-kwi
mendengus sambil meludahi mayat hongsan-lama
“bagaimana dengan perempuan itu!?”
“biarkan saja tok-sim ! paling besok dia
sudah jadi mayat karena lukanya.” Sahut siang-kiam-kwi
“betul , apalagi dia sudah merasai pukulanku
! hahaha…hahaha..hahaha…” sambung toat-beng-kwi dengan tawanya yang keras
“sekarang kita istirahat dulu!” siang-kiam-kwi
dengan sadisnya menendang mayat-mayat bergelimpangan itu seperti bola dan sekejap
mayat-mayat itu berterbangan keberbagai arah dibawah bukit
naas memang nasib delapan sahabat yang baru
tadi siang makan bersama , seakan makan bersama dalam pesta ramah di rumah
makan kwee-bun merupakan hari terakhir mereka
Bu-goat eng terus menuruni bukit dengan luka
yang tidak ringan dan pagi harinya bu-goat eng sudah berada dikaki bukit , dia terus tertatih
dengan luka dilambung dan luka dalam yang menyesakkan dadanya
setelah matahari agak tinggi dia melihat
seorang anak lelaki berumur lima tahun sedang
berindap-indap di bawah lembah jalan setapak itu sedang mengintai sesuatu, anak
laki-laki itu adalah Kwee-Han-Tiong putra kwee bun
dengan suara tawanya yang jernih dan lepas
Kwee-han-tiong mengejar-ngejar belut yang meliuk-liuk dan menyusup kedalam
tanah
“cup..cup…cup…hahah..hahha” suara Han-Tiong
memancing belut supaya keluar dari lobang seiring suara tawanya yang bebas
“byuarrr…”
“heh.. apa tuh…!?” Kwee-han-tiong terkejut
melihat tubuh manusia menggelinding kebawah terhempas ke tanah lumpur
didepannya, dengan cepat dia mengangkat kepala wanita itu
”aduh… , bibi apa yang terjadi denganmu!? ,
aduh… bibi luka!“ Han-tiong menatap iba pada wajah yang menunjukkan ringis
sakit luar biasa
dengan nampas yang empas empis ,Bu-goat-eng
melihat wajah anak laki-laki yang tampan yang mengangkat kepalanya
“aghh…anakku liem-swat hong malangnya
nasibmu , oh anakku!“ keluhnya lemah
“kenapa bibi !? ada apa dengan anakmu
liem-swat hong itu !?” Han-tiong menggoyang-goyang tubuh Bu-goat-eng , Bu-goat-eng
melihat kembali wajah Han-Tiong
“aku akan mati, kamu carikanlah anakku
Liem-swat-hong! jaga dia dan jangan biarkan anakku mengotori dunia ini dengan
kedurjanaan, ahhhh…” tiba-tiba bu-goat-eng terdiam dan matanya terpejam .
dada Bu-goat-eng masih bergerak namun nafasnya
semakin sesak dan pendek
“aku akan menjaga adik swat-hong, tenangkan
hatimu bibi!” Han-tiong berbisik dekat wajah Bu-goat-eng dan kemudian Han-tiong
menggoyang tubuh bu-goat-eng yang sudah tidak bergerak , han-tiong jadi bingung
sendiri karena tidak tahu apa yang harus ia perbuat
tiba-tiba mata Bu-goat-eng terbuka lebar dan
menatap ke mata han-tiong yang dekat dengan wajahnya
“anakku ada tanda merah dibawah ketiaknya.” Bisik
Bu-goat-eng menggunakan sisa kekuatannya dan akhirnya nafasyapun putus
Kwee-han-tiong bingung melihat wanita itu
telah mati, dia merayap keatas mengharapkan orang lewat tapi sampai siang tidak
ada orang yang lewat, kemudian Han-tiong turun kembali kelembah jalan dan
mencabut daun talas yang tumbuh dipinggir parit lalu dia menutupi jasad
Bu-goat-eng
“aku lapor ke ayah saja!” pikirnya sambil berlari kearah kota kun-leng
Di pasar kun leng tepatnya di kedai kwee-bun
terjadi malapetaka mengenaskan , thian-te-sam-kwi sudah sampai di kun leng dan
memasuki kedai kwee-bun
“silahkan…silahkan masuk sam-lopek!” sambut a kiong
“heh siapa lopek mu !” bentak siang-kiam-kwi
sambil mengibas tangannya menampar a kiong
“prak….” kepala a-kiong pecah dan
menewaskannya seketika, pelayan yang lain terkejut pucat menyaksikan peristiwa
sadis itu
“hahaha….hahaa “ gema tawa toat-beng-kwi
membuat kwee-bun keluar dari dalam ruangan
“ada apa ini !? teriaknya dengan raut wajah
kesal , namun ketika melihat mayat a-kiong yang tergeletak dengan kepala pecah
bersimbah darah dan lima pelayannya
meringkuk disudut ruangan, kotan wajah Kwee-bun terkejut dan pucat pias
dia melihat tiga orang asing dan salah seorang
berperawakan mendekatinya
“si…si… siapa kalian !?” tanya kwee-bun dengan
tubuh gemetar
“huh.. bukkk…” tok-sim-kwi sambil mendengus
menendang perut Kwee-bun hingga tubuhnya terlempar dan masuk kedalam ruangan
rumahnya bahkan tubuhnya menghantam lemari hingga hancur, tak bersambat nyawa kwee bun putus
terdengar jeritan Tan-siok-nio yang melihat
suaminya mendoplok dilantai tak bergerak, Tan-siok-nio menangis memeluk
suaminya, tok-sim-kwi masuk kedalam dan mendekati Tan-siok-nio dan tangannya
yang kekar menjambak rambut Tan-siok-nio
“aa……,lepaskan…!” jerit kwee-hujin histeris kesakitan
“heheh..hehe … hehehe…. ,aduh kasihan !
masih muda begini sudah menjanda!” cela tok-sim-kwi sambil menyeret Tan-siok
nio keluar
“lepaskan aku manusia binatang ! manusia
keji…! bangsaaaat…!” jerit Tan-siok-nio
“hehehe…hehe.. hehe…” sambil tertawa
tok-sim-kwi tidak memperdulikan jeritan tan-siok nio dan terus menyeret tubuh
tan-siok-nio
setelah sampai dimeja dimana kedua rekannya
duduk, Tan-siok-nio didudukkannya dikursi dan di totok hingga kaku dan bisu,
orang yang lalu lalang ditepi jalan berkerumun karena terkejut mendengar
jeritan Tan-siok-nio
beberapa orang laki-laki kuat memberanikan
diri mendekati tapi tak ayal mereka semua terlempar bagai layangan putus
dipukul oleh toat- beng-kwi, melihat keadaan itu sebentar saja kerumunan itu
berlari menjauhkan diri hingga keadaan didepan kedai sunyi kembali, tidak ada lagi orang yang berani melintas
lewat didepan kedai
“heh…. pelayan ! siapkan makanan untuk tuan
besarmu, cepat…! Hahhaa..hahhaa“ bentak toat beng kwi
kelima orang itu dengan gemetar kedapur
mempersipakan makanan, kemudian mereka berlima menghidangkan makanan, meja sudah
penuh hidangan dan ketika kelima pelayan hendak mundur tiba-tiba sebuah
serangan kilat dari tok-sim-kwi membuat mereka terjungkal bergelimpangan tidak
bergerak dan tenggorokan mereka meninggalkan bekas hitam
lalau ketiga iblis itupun mulai menyantap
makanan, berselang satu jam kemudian ketiganyapun selesai menikmati santapan
mereka, tiba-tiba toat-beng-kwi hendak menampar kepala Tan-siok nio
“eit.. tunggu dulu toat-beng ! wanita ini
jangan dibunuh!” tok-sim-kwi menangkap
tangan toat-beng-kwi
“agh… kenapa ? wanita ini akan menyusahkan
kita saja!” sungut toat- beng-kwi
“wanita ini tidak boleh dibunih karena saya
butuh penjaga bayi yang kuculik” sahut tok-sim-kwi tegas
“dan juga wanita ini sangat cantik dan masih
muda , tentu sangat menyenangkan disaat kita butuh hiburan.” tambah siang kiam
kwi .
“ya sudah kalau begitu…” dengan muka mengkal
toat-beng-kwi duduk kembali
setengah jam kemudian merekapun mencelat
keluar dan meninggalkan kota kun-leng sambil
membopong Tan-siok-nio
air mata Tan-siok-nio tidak henti mengalir karena
rasa takut dan sedih yang menyergap dihatinya, mukanya pucat dan cemas makin
tidak terperikan memikirkan suami dan anaknya
Dua jam kemudian setelah pembantaian di
rumah kwee-bun, Han-tiong sampai didepan rumahnya , dia heran melihat orang
berkerumun di dalam kedai ayahnya , orang-orang yang melihatnya segera memberi
jalan dengan tatapan iba
“ada apa….apa yang terjadi !? tanyanya
kepada orang-orang yang sedang menjajarkan tujuh mayat
“ada apa lopek ..!?” tanyanya lagi dengan
hati cemas
“aih… Han-tiong kasihan kamu nak .. “ sahut
orang tua itu , Han-tiong dengan hati gemetar menyelip kedepan dia melihat
tubuh ayahnya terbujur
“ayaaaaah ..ayahh , ooooh ayaaaah“ Han-tiong
menjerit keras dan pingsan, orang-orang
terenyuh sesugukan melihat keadaan han-tiong yang pingsan karena histeris
satu jam kemudian han-tiong pun siuman dan
kembali memanggil-manggil ayahnya membuat suasana makin memilukan hati yang
memandangnya
“ayah … ayah… ah ibuu , mana ibuuu…. Ibuku
mana …. Hu…hu…hu…” jeritnya lagi dengan tangis pilu
“han-tiong sabarlah nak ! keluargamu
didatangi orang keji dan melakukan kekejian ini, dan ibumu …. ibumu dibawa
mereka.“ sahut Bhok-siansu mendekati Han-tiong
“bhok-suhu..! siapa mereka suhu ? “ tanyanya
disela sedu sedannya
“kami tidak tahu tiong-ji, mereka itu ada tiga
orang “ jawab bhok-siansu
semalaman han tiong menangisi mayat ayahnya
, baru keesokan harinya ketujuh mayat itu di kebumikan oleh penduduk, malam
harinya Han-tiong ditemani beberapa orang tua dan ibu-ibu tetangga untuk
menghibur kesedihannya hingga beberapa malam, setelah itu Kwee-Han-Tiong yang
berumur lima tahun lebih menjalani sendiri kehidupannya dengan tabah, berusaha
memenuhi dan menyelesaikan kebutuhannya dengan peninggalan orangtuanya yang
lumayan
Han-Tiong masih terus mengikuti pelajaran
dari Bhok-siansu , suatu ketika setelah tiga bulan ayahnya meninggal dan ibunya
hilang Han-Tiong memasuki kamar orangtuanya sesaat hatinya getir merindukan
ayah dan ibunya , kemudian Han-Tiong melihat sebuah peti yang biasa terletak
didalam lemari yang hancur diruang tengah, peti kecil itu awalnya berada dalam kotak hiasan kaca
berisi air sehingga peti itu melayang terapung diatas air tapi sekarang kacanya
sudah pecah dan airnya tumpah
dan mungkin setelah kejadian malapetaka itu
para tetangga yang membersihkan bekas pecahan lemari menyusun dan meletakkannya
didalam dikamar orangtuanya, Han-tiong tertarik dan ingin mengetahui isi peti
itu, setelah peti itu terbuka maka didalamnya ada mainan kura-kura kecil,
Han-tiong mengambil mainan kura-kura itu dengan hati heran
“aneh kok ada mainan kura-kura didalam peti..?”
gumam han-tiong dalam hati sambil pegang sana sini dan tiba-tiba tempurung
kura-kura itu bergeser sedikit “eh …” pikirnya terkejut, lalu dia gerakkan
tempurung itu sampai menutup kepala kura-kura dan didalamya Han-tiong dapati
sepucuk kertas yang terlipat, kertas itu diambilnya dan dibuka maka diapun
membaca
Anakku kwee cin sisihan adikmu kwee
can
Semoga hidupmu jauh dari pertentangan
Terhindar dari segala permusuhan dan
kekejian
Jika aral melintang engkau dapat
cobaan
Akibat kedurjanaan dunia persilatan
Tiadalah salah engkau menegakkan keadilan
Mengambil baju kegagahan disamping kelembutan
Pulau kura-kura menyimpan bagian warisan
Siap digunakan anak dan keturunan
Kwee Lun
Han tiong melihat ada sebuah gambar peta
dibawah tulisan itu , dia berpikir lama , dia tidak tahu siapa kwee lun itu atau
kwee cin namun pasti ini adalah moyangnya , maka dengan hati yang mantap dia
berniat akan pergi mencari pulau kura-kura .
Keesokan harinya Han-Tiong menemui suhunya bhok-siansu
“suhu…, tecu berencana besok akan
meninggalkan kun-leng.”
Bhok-siansu terheran-heran dan bertanya, “kamu
mau pergi kemana tiong-ji?!”
“tecu akan pergi merantau suhu…”
“aih.. tiong-ji kamu masih kecil, berbahaya
bagimu mengadakan perjalanan sendiri!” tegur Bhok-siansu
“tapi suhu…! tekad saya sudah bulat untuk
menjalaninya, kong-cow saya sudah memanggil tecu.”
“eh.. apa maksudmu tiong-ji ? “ bhok siansu
dengat kening berkerut memandang han-tiong
“saya tidak tahu suhu, tapi hati saya ingin
pergi kesuatu tempat dimana kong-cow saya berada, jadi suhu ! saya hanya ingin suhu
menolong saya untuk memberi tahu letak pulau kura-kura!”
“pulau kra-kura…” gumam bohk siansu
“benar suhu…! Tapi jika suhu tidak tahu
tidak mengapa”
“hmh… baiklah tiong-ji…! jika keinginanmu
tidak dapat lagi ditawar , keluarlah kamu dari pintu sebelah barat kota ini, berangkatlah menuju
kota kaifeng dan bertanyalah
dengan penduduk disana mungkin mereka tahu akan pulau itu”
“terimakasih suhu…, besok pagi tecu akan berangkat,
dan satu hal lagi tecu memohon pada suhu.”
“apa itu tiong-ji!?”
“saya ingin menitipkan rumah kepada suhu
selama saya pergi dan mohon kiranya suhu dapat menerimanya, suatu saat kalau
hayat masih ada , saya akan datang kembali,”
“hmh.. baiklah tiong-ji, rumah keluargamu
akan suhu perhatikan!”
“sekali lagi terimakasih suhu dan sekarang
tecu mohon pamit.” Han-tiong kembali kerumahnya dan mempersiapkan diri untuk
keberangkatannya
Han-Tiong meninggalkan kota kun-leng dengan
berbekal uang cukup banyak dan bekal baju lima stel berangkat menuju kota
kaifeng, masuk hutan keluar hutan , masuk desa keluar desa, hari itu sampailah
Han-tiong dikota kicu setelah dua bulan menempuh perjalanan, bekalnya sudah
habis badannnya kumal berdebu
Han-tiong mendekati rumah makan, “heh…!
untuk apa kamu berdiri disitu hayo pergi..pergi..! , gertak seorang berbadan
kekar sepertinya tukang pukul rumah makan itu
“paman..! aku lapar sekali, aku dapat
bekerja cuci piring, jadi tolong paman berikan aku pekerjaan untuk mengisi
perut.”
“tidak ada pekerjaan disini, hayo pergi kau
! sebelum kupukul!” bentaknya dengan pasang muka angker, Han tiong pun meninggalkan
tempat itu
Diperempatan jalan dia melihat ada rumah
makan besar, lalu Han-tiong masuk gang yang mengarah kebelakang sebelah dapur
rumah makan tersebut, kebetulan seorang juru masak sedang keluar dengan
sekeranjang sampah basah
“eh kenapa kau kesini kamu mau apa?” tanya
juru masak itu heran
“paman…! tolonglah aku ini, aku sejak
semalam belum makan!” Han-tiong memelas sambil memegang perutnya
“aku akan bantu apa saja paman dan
berikanlah saya makan!”
“apa kamu bisa cuci piring !?” tanya juru
masak itu sedikit iba
“bisa paman , saya bisa mencuci piring.”
“baiklah kalau begitu dan mari kita
kedalam!” ajak juru masak , setelah masuk kedalam dan tiga orang rekan juru
masak heran melihatnya
“siapa anaka ini empek-kun!? tanya seorang
rekannya
“anak ini kelaparan dan minta pekerjaan
untuk mendapat makanan.”
“anak ini bisa apa!?” tanya rekannya yang
lain
“katanya ia bisa cuci piring , nah itu
piring dan mangkok kotor cucilah!” perintah juru masak pada Han-tiong
“baik paman…” sahut Han-tiong penuh semangat
“setelah selesai kamu boleh makan!” sambung
juru masak yang dipanggil empek-kun , Han-tiong mengangguk dan melangkah
ketempat pencucian
dengan semangat han-tiong melakukan pekerjaannya,
hampir satu jam Han-tiong mencuci piring dan mangkok yang kotor
“paman ditarok dimana piring-piring ini!?”
“oh ya , tarok dirak piring sana!” sahut empek-kun
menunjuk sebuah rak piring , kemudian empek-kun mengambil makanan yang hangat
dengan lauknya
“ nah… , sekarang duduklah disini dan makanlah..!”
perintah empek-kun
Han tiong dengan sigap duduk dikursi yang
ditunjuk empek-kun dan menerima semangkok nasi putih yang masih hangat dan dua
mangkok lauk, Han-tiong mengambil sumpit dan mulai menyantap makanannya, dengan
nikmat dan perlahan dia mengunyah nikmat makanan , rasa lapar memang membuat
semuanya jadi enak dan nikmat , hal itulah yang dialami Han-tiong
“kalau kurang minta lagi yah !?” teriak
empek-gan dari dekat tungku masak
“terimakasih paman…” sahut Han-tiong
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Post a Comment